:::::: Ujung Jariku ::::::


HOME

UjungJariku

PROFIL PENGGORES

B. Dwiagus S.
Peziarah penasaran.
Pengembara di jalan kehidupan.
Plegmatis bermimpi jadi pemimpin.
Pragmatis pengejar solusi dingin.
Perenung aneh yang pendiam dan sederhana.
Pengumbar cinta untuk: Klaudia dan Lentera.

Mama Lentera Lentera

TEMA & TOPIK


TULISAN TERBARU

Tilik Tetangga



jejaring

KomunitasReferensi BloggerFamily
IKANED IAP
ASEAN Secretariat GTZ
MediaCare
Bike-to-Work Indo-MONEV

KOLOM KAMPANYE

Ultah-Bike-to-Work



FEED FOR FUN

UjungJariKu

↑ Grab this Headline Animator



TUMPANG TENAR

Profil Facebook de Benedictus Dwiagus Stepantoro



ATRIBUT APRESIASI

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Blogger

Get Firefox!

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 2.5 License.
Desain dasar dari: Blogskins
Image: PGP!
Brushes: Rebel-heart
Designer: Ebullient*




Yangon dan Pagoda Shwedagon

Posted on Monday, November 05, 2007

Ijinkan saya mengingat Yangon dan pagoda tercintanya, Pagoda Shwedagon, yang terakhir saya kunjungi tahun lalu. Walaupun mungkin sekarang ini bukan saat yang tepat untuk mengunjunginya.

---------------------------------

Yangon adalah kota terbesar di Myanmar. Kota ini menjadi bekas Ibukota Myanmar, karena baru tahun 2006 lalu Ibukota Myanmar dipindah ke sebuah kota baru bernama Naypyidaw, yang berada 320 kilometer sebelah utara Yangon setelah menerabas belantara hutan. Ia menawarkan kesederhanaan, keheningan, kemisteriusan, keunikan dan kehangatan. Semuanya terlihat dari senyum yang selalu terukir di wajah setiap orang, jalanan yang lenggang, dan warung-warung dan toko-toko yang sederhana, serta bangunan-bangunan tua berasitektur kolonial Inggris. Mengelilingi kota Yangon, seperti mengelilingi kota Yogyakarta tahun 1980-an. Tenang tanpa hiruk-pikuk namun damai dengan sedikit unsur mistis.

Anda mungkin akan terus tersenyum ketika mengamati warga Yangon. Tidak hanya karena senyum keramahan mereka, tapi juga mungkin karena tidak terbiasa melihat para pria mengenakan sarung dan memakai sandal setiap saat, bahkan di tempat-tempat resmi. Ya, pakaian resmi tradisional Myanmar bagi pria adalah sarung yang dilengkapi dengan memakai sandal, yang bentuknya mirip sandal jepit, tapi kualitasnya jauh berbeda. Jadi, jangan lupa untuk membeli seperangkat pakaian tradisional bagi pria tersebut, yang meliputi kaos dalam, kemeja, jas, celana pendek, sarung dan sandal. Lengkap sudah.


Sekedar menikmati atmosfir keramahan dan kenyamanan yangon mungkin belum cukup. Anda bisa berkunjung ke tempat belanja seperti Bogyoke Market (Scott Market) un
tuk berbelanja berbagai macam pernik-pernik, barang kerajinan atau souvenir. Anda juga bisa berkunjung ke Gems Museum (Musium Batu-batuan Berharga) untuk, sambil berbelanja, mengetahui betapa Myanmar sangat kaya oleh bahan galian tambang batu-batu berharga seperti berlian, ruby, giok, safir, topaz dan lain-lain.


Tapi yang sungguh tak boleh terlewatkan adalah mengnjungi Pagoda Shwedagon yang merupakan landmark dari kota Yangon. Setiap orang yang berkunjung ke Yangon, diwajibkan mengunjunginya karena Pagoda ini adalah pagoda terbesar di Yangon, di antara pagoda-pagoda lainnya.

Pagoda yang berusia hampir 2500 tahun ini menjulang megah di atas sebuah bukit. Seluruh bagian tubuh stupa pagoda tersebut dilapisi oleh lembaran-lembaran emas. Sejak berdirinya, orang-orang Myanmar selalu menyumbangkan emas untuk memperindah Pagoda ini. Tapi balutan emas di tubuh stupa tersebut tidak cukup. Di bagian puncak stupa terdapat pucuk dan mahkota serta “bendera” yang dilapisi emas murni dan dihiasi oleh taburan berlian dan batu-batuan ruby. Di pucuknya bahkan terpasang sebuah batu berlian besar 76 carat seberat 15 gram. Tapi, kagumi saja itu dari jauh.

Di pelataran kita bisa berjalan-jalan menikmati suasana hening nan mistis yang dihadirkan oleh penduduk kota Yangon yang melakukan ritual dan memanjatkan berbagai macam doa, sambil mengagumi 64 stupa-stupa kecil yang ada, mencoba membunyikan lonceng raksasa, mengamati berbagai macam patung Budha dalam ukuran besar, dan berbagai karya seni lainnya. Kita bisa turut bersila atau bersimpuh, turut merasakan mereka yang merendah pada yang Maha Kuasa atau sekedar mengamati burung-burung yang hinggap di stupa-stupa.



-----------------------

Sedih juga mengikuti berita-berita yang mengabarkan situasi-situasi tidak menyenangkan di Myanmar, setelah adanya penindasan yang dilakukan oleh pemerintah Junta Militer terhadap para biksu dan para pejuang demokrasi di Myanmar. Susah sekali saya membayangkan orang-orang Myanmar yang buat saya selalu berwajah hangat, penuh senyum, penuh kedamaian dan sukacita, akhirnya harus memendam rasa sakit hati yang tak terkira melihat para biksu mereka yang merupakan kecintaan mereka, ditindas, ditangkapi, dibunuh, dan disiksa.

Damai, hanya berjarak sebuah doa. Dan mereka sekarang yang bersimpuh dan menaikkan doa di pagoda itu, mungkin sedang menangis dan berserah, demi para biksu mereka. Berdoa demi sesuatu yang akan lebih baik buat rakyat Myanmar (atau Burma) dan para biksunya,…. mereka yang bersahaja namun punya keberanian yang mungkin saya sendiri tak akan pernah punya.

Labels: ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 12:53 PM | |

<<< === === >>>