:::::: Ujung Jariku ::::::


HOME

UjungJariku

PROFIL PENGGORES

B. Dwiagus S.
Peziarah penasaran.
Pengembara di jalan kehidupan.
Plegmatis bermimpi jadi pemimpin.
Pragmatis pengejar solusi dingin.
Perenung aneh yang pendiam dan sederhana.
Pengumbar cinta untuk: Klaudia dan Lentera.

Mama Lentera Lentera

TEMA & TOPIK


TULISAN TERBARU

Tilik Tetangga



jejaring

KomunitasReferensi BloggerFamily
IKANED IAP
ASEAN Secretariat GTZ
MediaCare
Bike-to-Work Indo-MONEV

KOLOM KAMPANYE

Ultah-Bike-to-Work



FEED FOR FUN

UjungJariKu

↑ Grab this Headline Animator



TUMPANG TENAR

Profil Facebook de Benedictus Dwiagus Stepantoro



ATRIBUT APRESIASI

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Blogger

Get Firefox!

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 2.5 License.
Desain dasar dari: Blogskins
Image: PGP!
Brushes: Rebel-heart
Designer: Ebullient*




Sepenggal Cerita dari Aceh

Posted on Sunday, March 02, 2008

Balita itu terlihat berbagi keceriaannya sambil berdiri di pangkuan ibunya, dan mencoba mengoceh dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Sepertinya tak ada yang kurang dengan anak umur 8 bulan itu. Lantas, mengapa pula dia dibawa orangtuanya ke Laboratorium Periksa di Rumah Sakit Zainoel Abidin ini?

“Anaknya kenapa ya, Pak?” Saya bertanya dengan hati-hati ke sang Bapak yang berdiri di samping saya.

“Ini mau periksa darah”

“Sakit apa pak?”

“Usus lipat,” sahutnya datar.

“Bagaimana pak?” saya mencoba memastikan apa yang barusan saya dengar.

“Iya. Ususnya kelipat. Jadi harus dioperasi. Sudah tiga kali operasi, nih. Tapi tetap saja masih ada infeksi, sekarang mau dioperasi lagi.”

“Kata dokter kenapa bisa seperti itu, pak?” Tanyaku sedikit menyelidik dengan jidat mengerut. Membayangkan usus bayi delapan bulan yang terlilit membuat hati ini teriris.

“Karena dikasih makan pisang,” jawabnya tetap dengan nada datar.

Ahhhh….. ketika mendengar jawabannya, kok mendadak sesak di dada.

“Waduh, bapak, bayi umur di bawah enam bulan sebaiknya jangan dikasih apa-apa selain ASI, pak.” Aku pun berpikir pasti pemberian pisang ke sang bayi ini sebelum umur enam bulan, dan pastinya memang itulah yang mengakibatkan hal fatal itu terjadi. Tapi komentarku ini tidak banyak berguna, malah seolah mengorek rasa bersalah sang bapak dan ibu.

Dan bapak itu tersenyum pahit.

“Tapi sekarang sudah membaik, khan, pak?” Aku mencoba menghibur. “Pake ASKESKIN khan, ya pak. Jadi Gratis khan?”

“Iya lah. Kami khan orang tak punya apa-apa lagi”

Dan saya pun menghindar tatapan si bapak dan kembali melihat sang bayi yang masih lincah, mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya, mencoba berdiri dan berjalan di atas pangkuan sang ibu. Senyum lebarnya mengalihkan perhatian saya dari perutnya yang sedikit menggelembung dan tertutup plester dengan sebuah selang dan kantung.

Paling tidak saya menemukan harapan bagi bayi itu (dan bayi-bayi lainnya) di Aceh ini yang pemerintah daerahnya mau menjamin rakyat tak mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis, mudah dan berkualitas. Tanpa tergantung askeskin dari pusat yang dikelola masih amburadul, pemerintah daerah di Aceh mau berani memutuskan “free health service to all” dengan kekuatan mereka sendiri.

Labels: , , ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 11:26 AM | |

<<< === === >>>