
Sepenggal Cerita dari Aceh
Posted on Sunday, March 02, 2008

Balita itu terlihat berbagi keceriaannya sambil berdiri di pangkuan ibunya, dan mencoba mengoceh dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Sepertinya tak ada yang kurang dengan anak umur 8 bulan itu. Lantas, mengapa pula dia dibawa orangtuanya ke Laboratorium Periksa di Rumah Sakit Zainoel Abidin ini?
“Anaknya kenapa ya, Pak?” Saya bertanya dengan hati-hati ke sang Bapak yang berdiri di samping saya.
“Ini mau periksa darah”
“Sakit apa pak?”
“Usus lipat,” sahutnya datar.
“Bagaimana pak?” saya mencoba memastikan apa yang barusan saya dengar.
“Iya. Ususnya kelipat. Jadi harus dioperasi. Sudah tiga kali operasi, nih. Tapi tetap saja masih ada infeksi, sekarang mau dioperasi lagi.”
“Kata dokter kenapa bisa seperti itu, pak?” Tanyaku sedikit menyelidik dengan jidat mengerut. Membayangkan usus bayi delapan bulan yang terlilit membuat hati ini teriris.
“Karena dikasih makan pisang,” jawabnya tetap dengan nada datar.
Ahhhh….. ketika mendengar jawabannya, kok mendadak sesak di dada.
“Waduh, bapak, bayi umur di bawah enam bulan sebaiknya jangan dikasih apa-apa selain ASI, pak.” Aku pun berpikir pasti pemberian pisang ke sang bayi ini sebelum umur enam bulan, dan pastinya memang itulah yang mengakibatkan hal fatal itu terjadi. Tapi komentarku ini tidak banyak berguna, malah seolah mengorek rasa bersalah sang bapak dan ibu.
Dan bapak itu tersenyum pahit.
“Tapi sekarang sudah membaik, khan, pak?” Aku mencoba menghibur. “Pake ASKESKIN khan, ya pak. Jadi Gratis khan?”
“Iya lah. Kami khan orang tak punya apa-apa lagi”
Dan saya pun menghindar tatapan si bapak dan kembali melihat sang bayi yang masih lincah, mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya, mencoba berdiri dan berjalan di atas pangkuan sang ibu. Senyum lebarnya mengalihkan perhatian saya dari perutnya yang sedikit menggelembung dan tertutup plester dengan sebuah selang dan kantung.
Paling tidak saya menemukan harapan bagi bayi itu (dan bayi-bayi lainnya) di Aceh ini yang pemerintah daerahnya mau menjamin rakyat tak mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis, mudah dan berkualitas. Tanpa tergantung askeskin dari pusat yang dikelola masih amburadul, pemerintah daerah di Aceh mau berani memutuskan “
free health service to all” dengan kekuatan mereka sendiri.
Labels: Aceh, kesehatan, miskin, travel
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 11:26 AM
| |
<<< === === >>>

BBM naik
Posted on Tuesday, March 01, 2005
Harga BBM naik. Bensin naik jadi Rp. 2.400,-. Bagaimana ini?

Tarik ulur keputusan naik tidaknya BBM akhirnya putus juga. Ditengah demo yang hangat-hangat tahi ayam oleh beberapa kelompok mewarnai di beberapa kota, juga beberapa cercaan, protes dan sindiran secara halus dan kasar dari beberapa pengamat dan pakar, beserta hitung-hitungan politik dari para anggota DPR dan hitung-hitungan matematis ala kwik kian gie. Tetap saja pemerintah bergeming untuk menetapkan kenaikan ini. Tak ada itu hukum penetapan harga, subsidi dan kerugiannya dengan membandingkan biaya produksi pengolahan minyak mentah dibandingkan dengan harga pasar dan harga yang dijual. Mungkin kita belum ngeliat biaya non-produksi nya kali yah. Biaya mismanajemen pertamina. Lebih enak melihat harga minyak di pasaran dunia dan membandingkannya dengan harga jual saat inih (eh, maaf, harga kemaren deng), dan kita bisa bilang pemerintah sudah men"subsisidi" begitu besarnya. Ah, baik sekali pemerintah itu.
Bagaimana? Ikut tergelitik, pengen demo? Silahkan saja, yang jelas Pemerintah sudah siap untuk tidak populer saat ini, ditambah dengan motonya sang boss sendiri: "I don't care". Silahkan saja berderap ke istana, dan sambutan dari mereka pun sudah terlihat dengan spanduk yang terbentang bertuliskan, "Selamat Datang, Kami Siap Membantu Mengamankan Kegiatan Unjuk Rasa yang Saudara-saudara Lakukan, Namun Diminta Saudara-saudara Ikut Menciptakan Rasa Aman dengan Tetap Menjaga Ketertiban dan Mematuhi Perundang-undangan (UU RI No. 9 tahun 1998)." [
KCM,01/03/2005]
Pemerintah yang tegar dengan entah sebuah visi mungkin. Atau pemerintah yang hanyut dalam kepentingan jangka pendek dan tidak begitu kreatif mencari cara lain selain menaikkan harga bbm. Atau tak ada cara lain kah? Kalau begitu mungkin sudah saatnya saya sekarang mengurus bagaimana mendapatkan dana subsidi BBM ini yang katanya bakal dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Mungkin saya harus bikin kartu keterangan miskin dulu, atau bagaimana yah? Atau saya harus menunggu kartu jaminan sosial yang katanya bakal dirintis pemerintah meniru negara2 lain di luar sana? Ah, mumet.
Labels: miskin, transportasi
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 8:57 AM
| |
<<< === === >>>