:::::: Ujung Jariku ::::::


HOME

UjungJariku

PROFIL PENGGORES

B. Dwiagus S.
Peziarah penasaran.
Pengembara di jalan kehidupan.
Plegmatis bermimpi jadi pemimpin.
Pragmatis pengejar solusi dingin.
Perenung aneh yang pendiam dan sederhana.
Pengumbar cinta untuk: Klaudia dan Lentera.

Mama Lentera Lentera

TEMA & TOPIK


TULISAN TERBARU

Tilik Tetangga



jejaring

KomunitasReferensi BloggerFamily
IKANED IAP
ASEAN Secretariat GTZ
MediaCare
Bike-to-Work Indo-MONEV

ARSIP AKBAR
KOLOM KAMPANYE

Ultah-Bike-to-Work



FEED FOR FUN

UjungJariKu

↑ Grab this Headline Animator



TUMPANG TENAR

Profil Facebook de Benedictus Dwiagus Stepantoro



ATRIBUT APRESIASI

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Blogger

Get Firefox!

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 2.5 License.
Desain dasar dari: Blogskins
Image: PGP!
Brushes: Rebel-heart
Designer: Ebullient*




Bilangan Fu yang Membawaku ke Rawa Buaya

Posted on Wednesday, July 23, 2008

Ayu Utami kembali lagi rupanya. Setelah cukup lama tidak terdengar beritanya (ah, kayak kenal aja…). Kali ini dia muncul ke permukaan lagi dengan novel terbarunya, Bilangan Fu, yang saya singkat saja dengan BF ya.

BF, secara garis besar bercerita tentang seorang pemanjat tebing bernama Yuda yang muak dengan listrik dan televisi yang membius masyarakat dalam kebodohan, yang punya kekasih bernama Marja yang merdeka. Kemudian seseorang geolog dan pemanjat belia berjari duabelas, masuk ke dalam petualangan mereka, sambil menawarkan ke Yuda cara baru dalam menerawang dan menaklukkan gunung, serta sebuah pandangan baru (atau sebuah ‘agama’ baru) yang menganjurkan laku-kritik terhadap tiga hal, yaitu 3M: Modernisme, Monotisme dan Militerisme, yang cenderung telah memanipulasi kekuasaan untuk menindas yang liyan, yang lemah, dan yang dianggap bodoh.

Saya tidak ingin membandingkan BF dengan Saman atau Larung, yang sudah tersohor sebelumnya, karena saya sendiri juga sudah lupa dengan isi cerita dua novel terdahulunya tersebut (makanya saya beli lagi Saman dan Larung, yang sebelumnya dipinjam teman saya Hengki, dan belum dikembalikan. Sialan tuh anak,… hueheheh). Tapi kalau seingat saya, Saman dan Larung lebih seru alur ceritanya, mendebarkan secara emosi dan debarannya sambung menyambung tak henti. Sedangkan BF mendebarkan pikiran tapi tak cukup menghanyutkan emosi. Mungkin karena di dalam BF ini bukan gejolak emosi yang ditawarkan, namun sedikit pergeseran pandangan yang ayu utami judulkan sebagai spiritualisme-kritis..

Ketika baca BF ini, jangan mau terjebak dengan kata-kata aneh yang membuat kamu takjub. Kata-kata yang ganjil, walaupun memang mungkin ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tapi jarang kita temukan. Ketika saya menemukan kata-kata aneh tersebut, saya skip saja. Karena saya pikir itu jebakan, yang membuat kamu melambat dalam membaca buku ini, dan malah sibuk mereka-reka artinya atau malah berhenti untuk buka website KBBI dulu. Saya pun tak mencatat daftar kata-kata ganjil itu. Jadi saya tak bisa kasih tau contohnya. Seru juga rupanya ya bahasa Indonesia ini. Banyak kata-kata yang sebenarnya indah nan lucu, tapi jarang dipakai. Mestinya saya catat kata-kata itu ya. Nanti lah.

Satu hal lagi yang menarik adalah pengunaan nama tokohnya. Ada Yuda (yang mirip Yudisthira, dan juga mirip Yudea), ada Parang Jati (yang arinya Batu Karang sejati,yang mirip Petrus), ada Marja (yang mirip Maria), dan ada Pontiman Sutalip (coba bandingkan dengan Pontius Pilatus. Dan coba Sutalip dibaca terbalik), juga tak ketinggalan ada Masyarakat Monoteisme yang disingkat Mamon. Lucu juga. Atau saya ngaco ngeliatnya dan mengada-ada? Huehehehe…. Terus yang benar-benar terasa tidak sreg buat saya adalah Ayu Utami memakai tokoh Yuda sebagai penutur cerita, tapi dengan penuturan gaya perempuan. Jadi kesannya agak lenjeh. Atau sengaja barangkali ya, mungkin Ayu Utami ingin menunjukkan bahwa laki-laki bisa saja punya cara meramu pikiran seperti perempuan. Atau sayanya saja yang terlalu bias gender?

Tapi memang buku ini memang berat dalam arti sesungguhnya karena tebal halamannya yang mencapai 500an halaman lebih dikit. Walaupun memang kertas yang dipakai adalah kertas khusus yang berasal dari pohon yang sudah tersertifikasi sebagai hasil pembudidayaan pohon kertas yang ramah lingkungan, namun kalau membaca tuntas BF ini, agak terasa boros juga tulisan yang ada di dalamnya. Bukan karena adanya taburan kliping-kliping Koran fiksi serta cerita kerajaan Mataram, Nyai Rara Kidul, Pewayangan, dan cerita daerah lainnya. Yang ini saya anggap bukan pemborosan, paling tidak buat saya ini penyegaran buat saya. Tapi yang membuat BF ini terasa boros kertas adalah karena banyak pengulangan-pengulangan kalimat dengan paraphrase yang pada intinya sama. Ketika lepas membaca beberapa halaman, ide yang sama berulang lagi di halaman-halaman berikutnya, seperti sedang ada penegasan berkali-kali seolah takut pembaca terlepas dari pegangan pemahamannya. Jadinya, membaca BF ini seperti sedang membaca selebaran propaganda atau kampanye McCain, kandidat presiden USA dari Republikan itu. Ah, tidak juga, mungkin tepatnya seperti mantra yang terus berulang-ulang, seperti doa novena dan litany orang kudus yang suka saya baca ketika di gereja dulu. Begitulah BF, dengan tawaran spiritualisme-kritis-nya, yang di tegaskan berulang-ulang seperti sebuah mantra dan litany yang mencoba membawa pada kesadaran baru, kesadaran bahwa kebenaran harus dijunjung, ditanggung, bukan ditancapkan ditanah dan menjadi patokan untuk menghakimi orang lain. Begitu juga modernisme, …. dan monoteisme. Sehingga mereka, isme yang tradisional, lokal, indigenous bisa terhindar dari aniaya. Juga sehingga mereka yang menyembah (menghormat pada) gunung, pohon besar, gua gelap, dan laut selatan juga tak tertindas. Karena mereka yang lemah itu lah malah justru kuat dalam memelihara bumi, sedangkan modernisme dan monoteisme kadang malah sibuk memelihara langit (di tingkat tujuh) tapi tak perduli dengan alam.

Tapi apakah bilangan fu itu sendiri? Bagaimana sebuah bilangan bernama fu, menjadi salah satu kerangka misteri di buku ini? Ah, kiranya sudah cukup ya ulasan saya ini yang gak pakai teknik close-reading, tapi instant-reading, seadanya. Baca sendiri saja bukunya. Yang jelas, hati-hati baca buku ini, bisa jadi kecewa, tapi bisa jadi terhipnotis dengan ‘mantra-mantra’ yang ada di dalamnya. Seperti saya, yang sempat terkena hipnotis itu sehingga membawa saya tersasar naik kereta sampai ke Rawa Buaya. Jadi, ketika saya asik membolak-balik halaman BF ini sambil menunggu kereta Sudirman Ekspress tujuan Serpong, saya pun tidak mengamati ketika saya masuk ke kereta apa yang berhenti di depan saya. Alhasil, saya terbawa kereta Cisdane, dan baru sadar ketika sudah lewat Tanah Abang. Terpaksa turun di stasiun Rawa Buaya, dan menunggu kereta arah balik ke Tanah Abang. Sementara menunggu di stasiun Rawa Buaya yang sunyi senyap itu, habislah tangan, kaki dan muka digigiti puluhan nyamuk.

Jadi pesan moral tambahan, berhati-hatilah kalau baca-baca buku sambil nunggu kereta, apalagi kalau buku itu ada mantra-mantra yang menyihir kamu sampai lupa dunia sekitarnya.

Labels: , ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 10:16 PM | |

<<< === === >>>


Kisah Kasih Ortu dan Anak: Inspirasi atau Menggurui?

Posted on Thursday, August 17, 2006


Review Buku
Judul : Teen World : Ortu Kenapa Sih ?
Penulis : Blogfam
Editor: Benny Ramdhani
Diterbitkan oleh : Penerbit Cinta

Mendengar kisah-kisah orang lain dengan membaca buku memang mengasyikkan, karena pastinya penuh inspirasi. Contoh buku kumpulan kisah-kisah seperti itu yang banyak orang tahu dan sudah baca adalah Chicken Soup for the Soul yang sudah disusul dengan banyak variasinya seperti Chicken Soup for the Soul at Work, Chicken Soup for the Teen’s Soul, dan lain-lainnya. Buku-buku seperti itu, tepat seperti judulnya, seperti sup ayam yang menyehatkan, karena bisa menghangatkan jiwa ketika badan atau jiwa sedang lesu-lesunya.

Ya, menghangatkan dan sering kemudian menyembuhkan. Seperti halnya pula buku “Ortu Kenapa, Sih?“ (OKS) yang disusun oleh penulis dari Blogfam, komunitas webblogger Indonesia. Buku ini mengkompilasi beberapa pengalaman hidup beberapa anggota Blogfam ketika menghadapi konflik dengan ortu mereka.

Blogfam sendiri sudah menjadi forum virtual bagi para webblogger untuk berbagi cerita, berbagai pengalaman, dan bahkan berbagi perasaan. Jadi proyek pembuatan buku OKS ini sejatinya memperluas media virtual para blogger itu ke media yang lain dalam bentuk sebuah buku. Dan dengan buku ini pula, beberapa anggota Blogfam, mewakili banyak remaja lainnya, menyumbangkan kisahnya masing-masing, untuk menjadi inspirasi tak hanya bagi para remaja yang kadang sering bingung menghadapi orang tuanya, tapi juga bagi orang tua (atau calon orang tua) yang tak kalah bingungnya memahami remaja.

Buku ini membawa kita pada kenangan ketika mengalami masa sulit, tak mengenakkan atau bahkan penuh kepahitan, dengan orang tua kita. Tapi ketika sudah melalui masa-masa itu, kita pun akan mengenangnya dengan senyum, tawa, haru dan kadang air mata yang melegakan. Dalam buku ini, beberapa kisah perseteruan mulai dari persoalan kecil seperti pilihan ransel ibu yang jelek dan hobi yang tak direstui bapak, sampai persoalan cukup berat seperti kondisi keluarga yang memperkeruh komunikasi antara anak dan orang tua, cukup menggambarkan bahwa kita semua pernah tiba pada situasi ketika kita tidak bisa mengerti orang tua kita yang bahkan sampai membuat kita membenci mereka.

Tak banyak cara yang lebih mengena untuk memahami orang tua atau anak kecuali dengan mendengarkan pengalaman orang lain dan merefleksikannya dengan keadaan kita sekarang atau dengan kenangan kita masa lalu, yang lebih jauh lagi menjadi pembelajaran untuk masa depan kita. Dan seringnya remaja dan orang tua tak suka digurui. Walaupun ditekankan bahwa buku ini hanya sebagai inspirasi tanpa menggurui, tapi kesan menggurui dari buku ini samar-samar terlihat dari tips-tips yang menempel di setiap akhir dari cerita. Mungkin memang baik tujuan dari tips-tips itu, untuk memudahkan pembaca menangkap pesan dari kisah itu, namun dikhawatirkan itu malah membatasi pembaca berkreasi menciptakan tips-tipsnya sendiri yang sesuai dengan kebutuhan mereka tentunya. Daripada berderet-deret tips, sebuah kalimat sederhana berupa kutipan ataupun kesimpulan, rasanya sudah cukup menjadi penutup akhir setiap kisah sekaligus penerang (bukan pengarah) bagi pembaca untuk menangkap pesan dari setiap kisah. Pada akhirnya, buku OKS ini akan lebih cocok dibaca oleh para remaja dan orang tua sebagai buku kumpulan kisah-kisah yang penuh inspirasi dibandingkan sebagai buku tips and tricks. Buku ini terlihat memaksakan diri memberikan tips and trick, yang kalau dihilangkan pun tak akan menghilangkan makna dan pesan dari kisah yang dibagikan.

Membaca keseluruhan buku OKS ini, semua kisah memberi inspirasi. Namun ada dua cerita dalam buku ini yang sedikit mengganggu, karena meninggalkan tanda tanya atau lebih tepatnya rasa penasaran dengan konfliknya yang masih bergantung, tanpa sebuah bentuk penyelesaian. Cerita si Nunik dan si Fahmi yang sedikit membuat hati sedih dan bertanya kenapa harus berakhir seperti itu. Apakah akhir cerita seorang Fahmi yang bercita-cita jadi pemusik dan Nunik yang mencintai teater harus disertai dengan kekecewaan selama-lamanya kepada orangtuanya yang melarang dan tak menghargai dirinya, yang menyebabkan impiannya terkubur. Bagaimana proses mereka untuk rekonsiliasi dengan ortunya dan mengatasi kekecewaan mereka, serta bagaimana mereka menyikapinya dan tetap memegang harapan dan cita-citanya untuk jangan sampai mati dan terkubur. Mungkin untuk menjaga konsistensi dengan kisah-kisah lainnya, sebuah ending manis patut dihadirkan untuk kedua cerita tersebut.

Walau bagaimanapun, apresiasi yang sebesar-besarnya untuk komunitas Blogfam memang pantas diberikan. karya perdana ini membuka pintu-pintu baru bagi munculnya karya-karya lainnya. Bukan tak mungkin, akan menyusul volume 2, 3, 4 dan seterusnya dari buku OKS ini. Dan bukan mustahil kalau buku-buku dari Blogfam seperti ini akan bermunculan dengan berbagai tema remaja lainnya, seperti remaja dan sahabat, remaja dan sekolah dan tema-tema lainnya.

Labels: , ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 12:00 PM | |

<<< === === >>>


sandungan playboy

Posted on Tuesday, February 14, 2006

Di sebuah minggu sore, sekitar dua minggu lalu, sebuah kebaktian malam di sebuah gereja sepi dihadiri beberapa pemuda dan segelintir pasangan dewasa, termasuk kami. Gak ada yang istimewa. Kecuali apa yang disampaikan si pendetanya sedikit menggelitik. Sebuah tema lawas tentang pengetahuan dan hikmat untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Diambil dari I Korintus 8.

Kadang buat kita, sungguh enak mempunyai sebuah kebebasan. Kebebasan berpakaian, kebebasan menikmati segala makanan, kebebasan berekspresi, kebebasan apa saja.

Saya sendiri sering kok berpikir begitu. Ketika kita berpakaian seadanya ke gereja, gita gak peduli, dengan argumen di kepala kita: "yang pentingkan Tuhan melihat hati,...", atau "urusan gua beribadah khan urusan gua dengan DIA dan gak ada kaitannya dengan cara gua berpakaian..."
Memang sih benar juga argumen itu. Tapi itu argumen yang berpusat pada diri sendiri. Kadang kita gak berpikir satu langkah lagi. Kadang kita gak melihat kemungkinan kalau dengan pakaian kita yang "seadanya" itu bisa mengganggu kenyamanan bahkan keimanan orang lain.
Sama seperti ketika kita merasa paling tahu mana yang benar, mana yang salah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Contoh sederhananya yah aku ini, yang kadang gak peduli ketika makan sesuatu yang menurutku sah-sah aja kunikmati, padahal menurut orang lain itu haram. Jadi inget ketika kuliah waktu itu satu flat unit dengan beberapa orang teman muslimku. Dan pada suatu hari aku kedapatan kiriman makanan dari teman, masakan saksang, yang tentunya kelian tau apa itu. Dand engan kurang ajarnya aku memanaskannya dengan panci dan mengambil sebagian dan membiarkan sisanya di nampan, dan asik memakannya di depan teman-teman ku yang muslim. Kurang ajar gak sih aku ini. Sebuah contoh yang buruk di mana kadang aku berpikir: "buat aku gak haram kok..." tapi gak peduli kalau aku sudah menjadi batu sandungan buat teman-temanku,.... gak peduli. Menyedihkan ya aku ini.

Sama seperti ketika menanggapi berita akan diluncurkannya majalah Playboy versi Indonesia di awal maret ini. Dengan soknya aku pun merapat ke barisan yang mendukung kebebasan untuk penerbitan majalah Playboy ini. Iya lah, pada awalnya aku berpikir, apa hubungannya playboy ini dengan moral bangsa ini. Gak ada hubungannya lah. yan gpenting kan pendidikan dan edukasi yang baik secara formal di sekolah maupun informal di keluarga, di gereja dan di mesjid. Mau ada playboy, hustler atau vcd/dvd porno bebas bereda pun, kalau kitanya bisa mengendalikan diri, yah, gak akan berpengaruh lah kepada moral bangsa ini. Kalau ada sebagian orang yang mau menikmati, yah silahkan. Kalau ada sebagian orang yang merasa keganggu, yah gak usah beli lah. Dan kadang aku mberpikir pula mungkin justru dengan playboy ini masyarakat kita menjadi lebihd ewasa, tahu mana yang baik dan mana yang buruk, yang penting sistem hukum publiknya saja yang dikuatkan. Gak usah ngurusin wilayah privat.

Jadi ingat yang ditulis Paulo Coelho di bukunya "the Devil and Miss Prym", mengutip cerita kuno, dimana sebuah percakapan antara seorang uskup dan penguasa kota terjadi. Si uskup ditanya oleh sang penguasa kota, "Apabila didepanmu ditaruh koin2 emas yang bukan milikmu, apakah kamu akan melihatnya sebagai seonggokan puing2 tak berharga?". Jawab uskup itu:"Tidak lah. Tapi aku mampu mengendalikan diri." Kemudian sang Uskup ditanya lagi: "Bila di depanmu seorang pelacur kelas tingggi yang cantik rupawan berbaring tanpa busana, apakah kamu akan melihatnya tanpa sebuah keinginan atau nafsu tertentu?" Sang Uskup menjawab: "Tentu tidak lah. Tapi aku mampu mengendalikan diri." So, it's about self control. Kalaow kalimat klisenya: "Semua khan kembali ke diri masing-masing."

Begitu lah yang ada di kepalaku. Yang penting kan pengendalian diri.
Jelas, asumsi saya sangat berbeda dengan mereka yang anti playboy. Kalau aku berasumsi, sebagian masyarakat ini harus dewasa, dan kuat imannya dan sudah seharusnya kuat pengendalian dirinya. Tapi banyak juga yang berpikir berlawanan
bahwa masyarakat itu belum dewasa, belum siap, dan pemerintah juga belum siap.

Mungkin argumen dan asumsi di kepalaku benar tapi mungkin juga salah berat. Tapi bukan masalah itu yang perlu dicermati di sini. Yang terutama ya itu tadi, point di paragraf-paragraf awal di atas, tentang bagaimana kita tidak hanya berfokus pada diri sendiri, tapi juga melihat orang lain. Kenyataannya dengan mendukung playboy, sepertinya aku telah menjadi batu sandungan buat banyak orang. Gak peduli, bahwa secara tidak langsung membiarkan orang jatuh kesandung. Gak peduli kalau ada sebagaian orang yang bisa terkena imbasnya, terutama mereka yang tereksploitasi oleh pornografi, mereka yang kurang edukasi dan pengertian akan seks yang bertanggung jawab, mereka yang kurang akses ke hiburan yang sehat sehingga taunya cuman hiburan dalam sebuah majalah. Toh pada akhirnya aku harus sadar, tanpa ada playboy orang-orang gak akan mati "kehausan" akan hiburan, bukan. Tanpa playboy, mungkin beberapa orang lebih menikmati dan menjalani hidupnya dengan nyaman dan dami sejahtera.
Jadi, nanti lah yah playboy itu. nanti ajah lah. 85 tahun lagi lah baru di Indonesia. Sementara mendingan konsentrasi pada massive education ke masyarakat tentang bagaimana berperilaku seksual yang bertanggung jawab.
huehehehhee.

Labels: ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 2:57 PM | |

<<< === === >>>


Kaya tapi tidak kaya - Fenomena Kiyosaki

Posted on Tuesday, October 04, 2005

Hmm.... udah lama gak bnge-blog.... ooops, udah 3 bulan gak nge-blog


Kemarin, aku bermain ke Gramedia yang baru saja dibuka di Plaza Semanggi, dan iseng-iseng menemukan sbuah buku menarik, yang keliatannya mirip dengan buku "Rich Dad, Poor Dad"-nya Robert T. Kiyosaki (selanjutnya ku tulis RDPD). Sebenarnya sih aku gak pernah tertarik dengan buku RDPD karangan Kiyosaki inih. Gak tau setiap ke toko buku dan ngeliat buku Kiyosaki yang terkenal itu dipajang, gak pernah membuat aku pengen beli. Paling Liat-liat dalam baca-baca beberapa paragraph dan kemudia dibalikin lagi. Tapi buku yang aku liat kemaren itu bukan buku RDPD tersebut tapi buku karangan John T.Reed yang aslinya adalah: "John T.Reed's Analysis of Robert T.Kiyosaki's Book-Rich Dad Poor Dad", dan terjemahan indonesianya dibuat judulnya: "Ayah Kaya Tidak Kaya". Lucu juga yah. Langsung ajah aku beli.

Dan tau gak kalian, ketika kalian mengetik keyword "Robert Kiyosaki" di google search engine, ternyata menemukan webpage-nya John T.Reed di urutan teratas, dan isinya adalah versi bahasa inggris buku yang aku beli ini. (nyesel juga ngapain beli, mendingan nge-print dari webURL ituh ajah, hehehe). jadi mungkin kalian gak usah beli buku itu, tapi check ajah langsung ke website John T.Reed ini. (kecuali kamu ingin memajukan penerbit lokal dengan cara membeli buku ini)

Sebenarnya aku belum pernah mebaca buku RDPD-nya Kiyosaki benar-benar, paling cuman ngintip2 di toko buku. Jadi memang gak fair juga kali yah kalau aku baca buku John T.Reed ini, tapi memang penasaran kali yah dengan isi buku yang mencoba mematahkan teori-teori spekulatif dari buku Kiyosaki yang terkenal itu )begitu yang tertulis di kofernya).

Dan buku ini memang seperti sebuah counter balik dari buku Roberto T. Kiyosaki yang dinilainya mengandung beberapa nasihat yang tidak jelas, membingungkan bahkan cenderung berbahaya. Ada beberapa pengalaman-pengalaman Kiyosaki yang kalau diikuti sebenarnya bisa menjerumuskan orang. Begitu kata John T.Reed yang sudah berpengalaman lebih dari 30 Tahun di bidang properti dan realestate, dan mempunyai banyak properti dan juga menerbitkan banyak buku dan jurnal tentang properti (sementara Kiyosaki ini diragukan punya banyak properti, diragukan punya banyak pengalaman realestate dan lain-lain, yang ada hanya gembar-gembor yang berkesan dia sangat kaya)

Banyak hal-hal yang aneh dari Kiyosaki yang dibahas di buku John T.Reed ini, mulai dari nasihat dan pengalamannya dalam berbisnis yang kalau dilihat lagi sungguh aneh buat John T.Reed (ada tabel perbandingan pengalaman Kiyosaki dan John T.Reed). Lantas yang diserang John T.Reed di dalam buku ini adalah sikap Kiyosaki yang tidak menghargai pendidikan, seolah gak ada gunanya untuk kaya. Padahal studi membuktikan, semakin tingkat pendidikan tinggi, semakin besar kemungkinan dia memperpanjang hidupnya, dan menikmati hidupnya. Lantas, John T.Reed juga mempertanyakan banyaknya uang dan properti yang dimiliki Kiyosaki, mempertanyakan pendidikan dia dan pengalaman dia di dunia militer, mempertanyakan pengalaman dia bekerja dan berbisnis (kiyosaki gak pernah punya pengalaman bisnis yang spesial bahkan beberapa kali bangkrut), dan mempertanyakan sukse dia menjual bukunya yang lebih ditentukan oleh faktor lobby ke AMWAY dan MLM yang menjadikan buku ini menjadi buku wajib buat para anggota MLM itu.
John T.Reed juga memaparkan analysis dan riset dengan beberapa bukti tercatat (aku sendiri heran, nih orang niat banget ngeriset background dan kekayaan si Kiyosaki sampai detail banget). Yang lebih penting lagi, John T.Reed mempertanyakan tokoh Rich Dad ini, kenapa dak dikasih tau namanya, apakah ini fiksi. Menurut John T.Reed sendiri, dengan nalaysisnya dan risetnya di hawai, dia sangat meragukan ada tokoh nyata si Rich Dad ini. Ketika diwawancarai oleh sebuah media, Kiyosaki malah bertanya kenpa gak dibikin mitos saja, anggap saja sebagai Harry Potter. Menurut John T.Reed, ini bahaya kalow menggunakan tokoh fiksi, tapi mencoba memberikan suggesti kalow itu adalah pengalaman diri Kiyosaki. Patutnya buku RDPD ini ditaruh di bagian buku Fiksi bersama buku Harry Potter 6 itu.

Ah, memang buku ini seperti buku-nya Michael Moore yang mengecam Bush, atau mungkin lebih tepatnya seperti buku yang mengcounter buku bestseller Da Vinci Code. Mungkin beberapa orang melihat nuansa kebencian atau kecemburuan, tapi mungkin juga orang melihatnya sebagai kegemasan atau ketergelitikan dan keheranan yang sangat.

Beberapa point yang disampaikan John T.Reed dalam bukunya tersebut memang aku amini seperti:
1. Dalam hidup ini banyak hal-hal lain selain uang, uang dan uang. Uang itu bukan segalanya sebagai tujuan hidup kita. Kalow gak seperti ini, aku gak tau hidup kita ini akan berujung ke mana. ( I do recommend you to read Rick Warren's book, entitled "Purpose-Driven Life")
2. Pendidkan itu penting, juga hal-hal lain yang bisa membuatmu menjadi kaya. Dan mohon di catat lagi, kaya itu bukan dalam hal finansial saja.
3. Terjun jadi pebisnis dan investor memang sangat bagus. Tapi kalau jadi pengusaha/pebisnis dan investor yang tidak punya respek kepada orang lain yang bekerja professional (seperti guru,dokter,perawat), ataupun para karyawan swasta dan Pegawai Negeri (padahal tanpa mereka, bsinis dan investor gak bisa apa-apa), ya sungguh disayangkan sekali.

Kesimpulan dari analysis John T.Reed ini memang menarik dan provokatip. Yang pertama, gak jelas itu tokoh Rich Dad itu, dan terlihat fiktif, sehingga validitas claim penglaman belajar Kiyosaki ini patut diragukan. Nasihat-nasihat yang ada dalam buku RDPD Kiyosaki itu sangat tidak jelas dan tidak spesifik, seperti sebuah ramalan bintang di majalah remaja, atau pidato janji seorang politikus, atau sebuah gambar bercak tinta yang bisa diinterpretasi sesuai dengan kenyamanan kita. Apa yang menjadi pengalaman Kiyosaki itu sangat meragukan dan jelas membingungkan bagi para pakar atau orang yang berpengalaman dalam dunia investasi khususnya properti. Intinya, nasihat-nasihatnya yang tidak jelas juga berbahay dan bisa menjerumskan.
Apa yang membuat buku ini laku keras mungkin karena buat orang yang tidak nyaman dengan keadaan finansialnya sekarang, akan merasa mendapatkan encouragement untuk berani berbuat sesuatu untuk merubah keadaan finansialnya, namun sayangnya buku RDPDnya Kiyosaki itu tidak memberikan gambaran yang jelas dan spesifik untuk bagaimana berbuat sesuatu itu. Seperti apa?. Tak ada yang spesifik dan tak ada yang meyakinkan kalau dibandingkan dengan orang yang berpengalaman. Oleh karena itu. Buku RDPD itu kurang cocok untuk mereka yang sebenarnya sudah nyaman dengan kondisi finansialnya, atau yang sudah sukses, karena nasihat-nasihat didalamnya keliatan gak jelas sama sekali dan basi. Terutama kalimatnya yang terkenal itu: "Don't work for money, but let the Money work for you". Apa artinya itu? Mungkin jadi akan panjang penjelasannya dan keliatannya menyenangkan mendengarnya. Tapi kalau dilihat lagi apa maksudnya yah? Apa harus keluar dari pekerjaan? kalau memang kita bisa membuat uang itu bekerja, terus gemanah kita mendapatkan uang yang bisa disuruh untuk bekerja buat kita, kalau kita gak bekerja?

Tapi semua itu memang debatable.

Sebuah intermezzo. Beberapa hari yang lalu, aku nonton acara talskhow "Bincang Bintang" yang di-host oleh Tika Panggabean, dengan bintang tamu-nya waktu itu adalah Ulfa Dwiyanti dan Novita (atau Nova yah, lupa), dan pada waktu itu dikerjain oleh si Tika. Ceritanya diundanglah di acara itu, seorang pengusaha yang katanya kaya dan terkenal untuk sekedar berbagi tips dan nasihat buat pemirsa terutama buat si Ulfa dan si Novita. Mereka berdua cerita sih, bahwa mereka berminat untuk mencoba kemampuannya untuk mengembangkan bisnis. Si ulfa cerita sudah memulai dan juga novita juga ingin coba-coba juga. Apalagi mereka juga harus memikirkan masa depan mereka ketika karir keartisan mereka bisa meredup kapan saja.

Trus si pengusaha ini, sebut saja namanya Bpk. Fino, mencoba ngasih pandangan, bahwa untuk melakukan bisnis ituh harus benar-benar serius dan harus banyak pengalaman. Pak Fino ini masih muda tapi dia cerita juga bahwa dia sudah mulai terjun bisnis dari kecil dan hasilnya yang dinikmati sekarang sudah lebih dari lumayan.

Ketika giliran diminta sumbang sarannya oleh Tika untuk kedua artis, Ulfa dan Novita itu, barulah si pengusaha ini mengoceh dengan gaya serius dan cukup meyakinkan, dia bilang memang susah untuk kedua artis itu untuk serius bisa mengembangkan bisnis. Cocoknya jadi ibu rumah tangga ajah, dan melupakan keinginan mereka untuk terjun ke dunia bisnis. Terutama untuk Ulfa yang mencoba bercanda, menunjukkan bahwa Ulfa itu memang bakatnya gak di bisnis tapi ngelawak ajah.
Gemanah gak sedikit dongkol yah? Dan memang mereka keliatan nahan diri untuk gak nunjukin diri mereka bahwa mereka kecewa dibilang kayak gitu, seolah suatu kesalahan kalau terjun ke bisnis, dan seolah mereka gak akan pernah mampu untuk bisnis.
Tapi akhirnya si Tika gak sabar untuk ngasih tau kalow mereka berdua sedang dikerjain oleh seorang aktor yang dicasting untuk berperan jadi pengusaha yang belagu dan menjengkelkan. Akhirnya ngamuk lah mereka (antara serius kesel dan mencoba bercanda), abisnya merasa diremehkan.

Anyway, memang begitulah kali ya, bahwa kita memang butuh sesuatu encouragement dari orang lain untuk banyak hal termasuk untuk mencapai sebuah tujuan, terutama tujuan finansial barangkali yah. Dan benar kata temanku, kita seringnya cuman ingin mendengar dan mempercayai apa yang kita ingin dengar dan ingin kita percayai. Pilihannya ada di kita. Gunakanlah sebanyak mungkin reference yang bisa kita percaya. Tapi kembali lagi, mungkin kita cuman menerima beberapa reference yang kita MAU PERCAYA, tanpa mengecek validitasnya. Payah ya. Jangan sampei kita ternyata seperti Ulfa dan Novita itu yang ternyata bisa dikerjain oleh seorang actor, kapan saja.

Maaf beribu maaf yah, tulisan ini tidak bermaksud menyerang pihak manapun, sekedar review yang jelas ada unsur subjektifitasnya. So, please comment....

Labels: , ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 4:24 PM | |

<<< === === >>>


Da Vinci Code

Posted on Monday, November 29, 2004

Beberapa waktu lalu di inbox emailku berseliweran email2 tentang buku The Da Vinci Code karangan Dan Brown. Kasak-kusuk yang kudengar begituh heboh tentang buku ini. Katanya banyak org greja kristen/katolik yang concerned kalow buku ini bakal menggoyahkan banyak iman orang kristen/katolik. Tapi lepas dari kekawatiran ituh, buku inih telah menjadi best seller dunia, dinikmati dan dipuji banyak orang. Maka ketika suatu waktu aku ada kesempatan transit di Changi, kusempatkan lah beli buku ini.

Buku ini merupakan thriller suspense yang benar-benar menghanyutkan dan menegangkan, dengan berlatar belakang sejarah kekristenan (atau kekhatolikan tepatnya?), dan pembahasan karya-karya Leonardo da Vinci yang fenomenal.

Tidak hanya plot cerita-nya yang membuat aku menyukai buku inih, tetapi ilustrasi-ilustrasi detail soal sejarah kekristenan dan ketuhanannya yang membuat aku kadang berhenti sejenak membacanya sambil mengrenyitkan alis: "is it true???". Buku ini juga mencoba menyampaikan pesan tentang alternatif theory atau alternatif kesepahaman tentang Tuhan saya (dan Tuhan kalian??), Tuhan Yesus, di manah Tuhan Yesus ituh ternyats bukan seperti yang aku (atau kita) yakini selama ini ....
Hebat kali lah, si Dan Brown inih membungkus pesan-pesannya ituh dalam sebuah novel thriller-suspense. Dan Brown mendasarkan ceritanya pada karya Leonardo Da Vinci: Monalisa, the Last Supper dan beberap artwork lainnya. Juga Dan Brown melengkapinya dengan mitos/legenda serta diskusi-diskusi yang ternyata sudah terajut sejak jaman pertengahan sampei sekarang inih soal Mary Magdalena dan the Sacred Feminine. Yah begitulah, Dan Brown seolah membawa kita membayangkan issue-issue ketuhanan apa yang berkeliaran di jaman pertengahan.

Tapi sebelum aku membaca halaman pertama buku inih, aku begitu ragu untuk memulai membacanya, dan memutuskan untuk mencari buku pendampingannya. Dan suatu hari aku pun menemukan satu buku yang mengupas buku inih dari sisi lain yaitu: "the Secrets of the Code: The Unauthorized Guide to the Mysteries Behind The Da Vinci Code" by Dan Burstein.

Jadi kalow kalian baca Da Vinci Code inih, beberapa pertanyaan2 mendasar yang keluar di otak kalian bisa bermacam2 yah.
- siapa inih maria magdalena? Apa hubungannya dengan Yesus? Apa mereka benar menikah dan melahirkan keturunan?
- Apa itu holy grail? apa bukan sekedar cawan suci ajah? apa memang itu cuman istilah? apa itu itu benar ternyata holygrail ituh simbol dari sesuatu yang lebih besar lagih? simbole ketuhanan feminin yang ada di Maria magdalena? apa benar Holy Grail ituh relic jasad dia?
- apa hubungannya dengan Leonardo da Vinci? Apa memang ia penganut kepercayaan Tuhan yang union antara femini dan maskulin? apakah memang ia menyampaikannya itu dalam semua karyanya? Apa memang dia anggota sekte Priory of Sion itu?
- dan segala macam detail sejarah lainnya......

Buku Dan Burstein inih belom selesai aku baca sih,.. gila, rumit banget diskusi2 tentang inih. Buku inih mengumpulkan artikel2 dan opini2 yang sebenarnya udah beredar dari jaman jebot sampe sekarang yang membahas mary magdalene dan holy grail,..... tapi cuman Dan Brown yang bisa menyebarluaskannya ke banyak orang melalui bukunya ituh. Tapi baguslah buku pendamping inih, setidaknya gua bisa ngikutin apa sebenernya dibalik buku Da Vinci Code dan apa yang sudah berkemabng selama ini yang aku gak tau sebelumnya.

Tapi seperti yang di bilang Dan Burstein: "It should be clear in our mind that the Da Vinci code is a novel. It's something to enjoy".
Yup, I couldn't agree more.

Kalow aku sih, Tuhan Yesus tetap seperti Tuhan Yesus yang aku ketahui, Tuhan yang mau jdai manusia (walaupun kata orang impossible, toh manusia bisa menganggap dirinya Tuhan, jelas ajah Tuhan bisa menjadi Manusia, dan ituh gak mengurangi sifat dan kemuliaan Tuhan)....... aku memang gak tau kalow Dia itu sebenernya married gak. aku juga gak tau apakah dia ituh punya anak dari Mary magdalena apa enggak. (kata salah satu scholar di buku Dan Burstein bilang: "di alkitab pun di bilang kalow Tuhan Yesus ituh sama persis dengan manusia kecuali dalam hal dosa. Sekarang, menikah dan punya anak ituh khan memang suatu kemanusiaan tapi apakah itu dosa?)
Tapi aku juga gak mau tau kali,... (blind faith??? or innocent ignorance) karena nanti biar aku tanyain sendiri ke DIA kalow aku ketemu DIA di Surga,.. ya gak?... Amin.

Labels: , ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 4:21 PM | |

<<< === === >>>


The Final Chapter of Paulo Coelho's THE PILGRIMAGE

Posted on Thursday, November 18, 2004

[tulisan yang tertunda]
Finally,...
I finished reading "The Pilgrimage", a Paulo Coelho's book. You guys, might have known Paulo through his famous Book "the Alchemist". Even though it is as inspiring and invigorating as the Alchemist, the Pilgrimage has a little bit more complicated words and phrase, and it's not really as easy-to-digest as the Alchemist. I needed to go back and forth and re-read over again some pages. It meant that I got either inspired or confused and didn't understand what the idea had been introduced in the earlier pages. huehehehehe

You may want to recall the story in the Alchemist, which tell the story of a young shepherd who had a dream and were willing to give up everything to chase after his dream. It shows you that it is important for everyone of us to have a dream, and CHASE AFTER it, coz the universe will gather its power and everything to help us chasing our dream,.. our real and true dream. We just need to look around and pay attention to the OMEN provided, (that’s what Palo called it, OMEN), and feel it, then we would know what we should do next to find out where our treasure is. And a dream will always make people more alive, and high-spirited, re-born, and help them get out from their little warm box of status quo, and dare to travel across the ocean and continent to face all the challenges and uncertainty, and get surprised by what they would get in the end of the journey.. Those are all in the Alchemist.

While in the Pilgrimage, it has also the same adventurous theme. An adventure to search a sword, which actually had been just a grab away from Paulo’s hands, but Paulo (Paulo put a character of himself in the book) had not been ready yet and not pure enough to receive the sword, .. .so the sword had to go somewhere out there, and to re-claim it again, Paulo needed to take a route, a medieval route known as the Strange Road to Santiago, a route that took a road from a small city in southern area of France crossing north area of Spain to the west.

Perhaps the story of the journey detailed in the book would make you bored if you can not enjoy the deep, inspiring, poetic, and philosophic words in the conversations exchanged by Paulo and his guide. Further, while the journey move on through chapters, Paulo put one little exercise in the end of each chapter, with a flat flow of the story. It made me want to open the next following chapters and wondering where Paulo want me to go in the end.

And it is in the final chapter where we would find the end of journey with a surprising finding. Let me quote one paragraph from there.
“It is not a sin to be happy. Half a dozen exercises and an attentive ear are enough to allow us to realize our most impossible dreams. Because of my pride in wisdom, you made me walk the Road that every person can walk, and discover what everyone else already knows if they have paid the slightest attention to life. You made me see that the search for happiness is a personal search and not a model we can pass on to others. Before finding my sword, I had to discover its secret - and the secret was so simple; it was to know what to do with it. With it and with the happiness that it would represent to me."

Yes, our quest is not how to achieve your goals and dreams, but to know what you would do with your goals and dreams as if achieved and what would you do with that and the happiness and joy that your goals and dreams bring in.

That recalled me to my childhood dream,.. you want to know my childhood dream, what I want to be in the future? Menristek, Minister of Research and Technology, like Mr. BJ Habibie,.. huehehhehe...
But then again now, I feel that I need to restructure all my dreams again, trying to figure out what I want to do with my dreams when they actually come true.

Labels: ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 9:46 AM | |

<<< === === >>>