
Episode TAKSI - 1
Posted on Thursday, September 25, 2008
Pagi itu, saya harus naik taksi, berhubung bawa koper agak besar, untuk perjalanan Jakarta-Mataram-Semarang-Jakarta-Medan-Jakarta. Apalagi dua hari berturut-turut sebelumnya nyepedah ke kantor. Alhasil, paha masih nyut-nyut, dan pegal masih merayap di pinggang, punggung, pundak dan tengkuk. Jadi males naik KRL. Panggil taksi deh di jalan raya dan bawa ke rumah.
"Ke Depkes ya, pak, Kuningan," sambil saya hempaskan pantat ini di kursi penumpang. (Ngomong-ngomong soal pantat, setelah ebberapa hari bike to work, gak kerasa lagi sakit seperti waktu genjot perdana dulu. Udah mulai kapalan kali ya ini pantat. Hehehe)
Pak supir mengangguk. Saya perhatikan mobil taksi ini agak butut juga. Tapi ini lah yang saya dapat, hasil cegat di jalan. Susah dapat alternatif lain kalau sudah lewat jam 7 pagi. Taksi M***A ini menurut pengakuan sang supir pernah menjadi primadona 4-5 tahun silam. Tapi sekarang seiring waktu, mobil pun sudah tergerus usia, ditambah saingan-saingan taksi-taksi baru yang bermunculan.
"Baru keluar pak?"
"Iya, nih."
"Poolnya di mana
emangnya pak?"
"Di Puri Flamboyan situ, deket komplek Bapak itu." Lantas Bapak supir itu menerangkan arah menuju pool tersebut. Lah, baru tau saya gak jauh dari komplek rumah ada pool taksi ini.
"Ooooo.... Terus, Bapak sendiri tinggal di mana?"
"Saya mah tinggal di Ciputat."
"Yah, gak jauh-jauh amat, Pak. Rumah sendiri ya?"
"Masih kontrak sih"
"Anak Bapak sudah besar ya, Pak?"
"Yang paling kecil masih SMA."
"Oooo.... Udah pada besar ya. Kalau yang paling besar?"
"Paling besar sudah bekerja. Umurnya 25 tahun. Ada empat semuanya. Anak pertama sampai ketiga sudah bekerja semua."
Dan mengalirlah cerita berikutnya.
"Anak saya yang pertama itu kerja jadi kasir. Tadinya di C******R. Beberapa tahun dia di situ. Sekitar dua tahun kira-kira lah ya. Terus keluar.. Ada sedikit konflik"
"Oh, gitu, Pak. Kenapa?"
"Waktu itu dia ikut aktif jadi anggota serikat pekerja C******R itu, dan bahkan jadi sekretaris organisasi itu. Pokoknya dia aktif deh. Sampai bagian HRD-nya gerah. Konflik deh. "
"Kok bisa gitu pak?" saya masih lugu bertanya.
"Iya, anak saya rajin tuh lapor-lapor ke kantor Depnaker kalau ada masalah ketenaga kerjaan di tempatnya. Rajin bolak-balik gitu deh. Jadinya karena beberapa laporan anak saya, bagian HRD atau personalia ini sering dipanggil ke kantor Depnaker. Kadang kepala personalia ini disidang berjam-jam atau berhari-hari. "
"Oh, ya?" Tanya saya, penasaran juga.
"Iya. Sebenarnya kerja di tempat itu ada gak enaknya juga. Kadang dipermainkan. Masalah jamsostek lah, askes lah. Nah anak saya ini aktif bantu-bantu temannya perihal masalah-masalah tersebut. Terus akhirnya anak saya di non-jobkan gitu deh. Di taruh di ruangan tertentu tapi gak dikasih tugas apa-apa. Tapi anak saya cuek-cuek aja. Jadi dia santai-santai, tidur-tidur di ruangan itu. Gak ngapa-ngapain. Terus setelah beberapa lama, mungkin si kepala HRD-nya itu gak tahan juga. Terus ditawarin lah anak saya mengundurkan diri dan bakal dikasih 5 juta rupiah sebagai kompensasi. Tapi anak saya tolak. Terus karena dipaksa-paksa, dia akhirnya bawalah surat tawaran itu ke Depnaker dan ngelapor. Terus, akhirnya si HRD ini dipanggil dan disidang. Lantas diputuskan oleh Depnaker anak saya bisa diberhentikan dengan pesangon 19 kali gaji."
"Hahahahaha..." Saya tertawa kecil.
"Iya, dan dikasih pesangonnya harus setelah enam bulan. Dan selama enam bulan itu anak saya tetap digaji. Tapi dengan syarat, anak saya tidak kerjadi tempat lain, kalau tidak mau gugur pesangon itu. Ya sudah, anak saya mah santai-santai saja. Jadi, dia di rumah, tidur, bengong-bengong, tapi gaji mengalir.Dan setelah enam bulan dapat deh pesangon itu. Lumayan loh, 20 jutaan."
"Waaaa..." Komentar saya. Sambil takjub.
"Iya, terus waktu itu dia liat-liat koran. Dapat lowongan, dan kirim lamaran. Eh diterima.Di restoran di daerah kota gitu deh. Karena ngeliat pengalaman kasir sebelumnya di tempat kerja sebelumnya yang lumayanpunya nama, makanya di langsung diterima.Padahal saingan dia dari sarjana-sarjana, tapi dia yang lulus SMA bisa keterima. Dia juga bisa bahasa Inggris sih. "
"Betah dia di situ, Pak?"
"Dia bilang sih enak kerja di situ. Selain gaji lebih tinggi. Dapat makan enak pula. Kadang dia pulang dapat berbagai sisa makanan enak. Udang2 besar. Ayam. Ikan. Pokoknya enak-enak deh. Betah lah dia."
"Hehehehehe... " Saya tertawa, ikut merasakan nada gembira pak supir taksi itu.
"Anak kedua saya juga kasir. Di A*** M***t . Di Ciputat situ. Gak deket juga sih dari rumah. Harus naik angkot. Kadangsaya antarin naik taksi saya ini."
"Kalau di situ gemanah, Pak? Gajinya berapa sih pak di situ?"
"Wah, gaji mah UMR."
"Anak saya yang ketiga juga kasir, di G*** L**** di CBD Sudirman itu loh. Yang dulu bekas C*** S***e. Yah UMR juga. Semuanya masih saya subsidi itu. Jadi saya kasih duit tiap hari. untuk transport dan makan. Tapi nanti kalau gajian, mereka kasih Buku Tabungan dan ATM-nya ke Ibu mereka. Kalau gak enaknya, ya yang di A*** M***t, gak ada kesehatan dan makan. Kalau anak yang ketiga masih ada. Di C*******r sebenarnya masih enak, dapet makan. Dikasih kupon terus makan di kantin."
"Oooooo..." Mulut saya membulat. "Adik saya juga kerja di I*** M***t, sama pak," saya menambahkan, mencoba menyumbang empati.
"Semua anak saya ini gak pernah nganggur loh. Ada aja jalan mereka dapat pekerjaan. Mereka langsung dapat. Anak saya ke dua itu malah waktu training, heboh. Ikut berkali-kali test, bersaing dengan ratusan pelamar. Sampai terpilih 15 orang dan dia di antaranya. Waktu tes ajah, dia gak tau tempat test. Saya drop di Blok M terus saya suruh naik bis dan cari sendiri di daerah harmoni sana. Nemu juga tempatnya. Terus waktu training di Cileungsi juga gitu. Saya anterin ke Kampung Rambutan, terus saya suruh naik bus ke Cileungsi. Sampei juga dia di tempat training. Dan waktu itu saya kebetulan dapet penumpang ke daerah cileungsi itu. Kebetulan. Jadi,saya kesana dan pas kebetulan anak saya sudah selesai training. Dan pas dia pulang. Dia bilang, wah pas nih, duit pas abis,... eh bapak datang."
Dan obrolan kami pun berkelana ke topik lain. Soal setoran beliau tiap hari, soal kebaikan bos pemilik taksi, ersaingan taksi mendapatkan penumpang, setelah kenaikan BBM dan selama bulan puasa. Dan lain-lain.
Mungkin benar, segala sesuatu bisa saja seperti kebetulan. Tapi kok rasanya bukan kebetulan belaka ya. Termasuk ketika saya mendapatkan cerita ini dari seorang supir taksi dengan tiga anaknya yang menjadi kasir, dan sedikit penggal ceritakehidupan mereka. Bukan suatu kebetulan belaka.
Kalau seorang supir taksi saja bisa mensyukuri segala yang dia punya dan dia alami bersama keluarganya,... saya semestinya juga bisa. Anda pun bisa.
Labels: keluarga
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 11:30 AM
| |
<<< === === >>>

like daughter like father
Posted on Friday, April 20, 2007

zzz.... zzzzz.....
lelap kami
berbagi posisi
berbagi mimpi
siapa meniru siapa ini?
tak ada yang peduli
cuma kami
Labels: anak, cinta, keluarga, lentera
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 2:38 PM
| |
<<< === === >>>

Penulis Cilik
Posted on Thursday, December 21, 2006

Bayi terkecil di dunia. Masih kecil sudah bercita-cita jadi penulis.
(Foto tanpa manipulasi dan modifikasi. Silahkan tanya Mas Roy huehehehe.) (Courtesy of Dwiagus)Labels: anak, cinta, keluarga, lentera
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 12:16 PM
| |
<<< === === >>>

Our fruit of love
Posted on Wednesday, November 01, 2006
Some says marriage is about take and give, but I would say it's far from the true meaning. But if you insist to hold on to that "take and give" term, you might have to be careful, as you may end up believing that the definition of marriage should fall near to the definition of prostitution (in legal sense).
Some says marriage is about gambling, but I say it's also far far away from its true meaning. It's not just about putting some wager and then sit back and relax and let the god of luck control our faith (of marriage). If you think a marriage is a gambling, you'll be busy looking for a perfect scapegoat, someone or something to blame. You will be busy blaming on the bad choices, bad conditions, bad surroundings, instead of planning and working hard/smart to solve problems and minimize the damages.
That's why, I prefer to see mariage as an investment. A noble and worthy invesment. And then I would imagine myself like Donald Trump when he first prepared his path for building his business empire. Having said that, I know I must work hard and put every effort to make my vision come true. It's like a good batle that is worthy enough to fight.
And HE knows what best for HIS people. In HIS will I know I can rejoice more and more along the way of marriage until the end of the day of the invesment, when I could sit back and relax and enjoy the fruit of my invesment.
And I don't have to wait for long to start rejoicing my first fruit of lovely investment.A beautiful baby girl was born on 18 October 2006, for me and my wife, a blessing and miracle from HIMSELF.
Allow me and my wife to introduce our first fruit of love to the world,
LENTERA AGLANAYSA ROSATAMINTA









Labels: cinta, isme, keluarga, lentera
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 8:41 AM
| |
<<< === === >>>

Pulang dari Yangon, Myanmar
Posted on Friday, June 30, 2006

Terinspirasi dari
JAF, menggunakan stripgenerator
Labels: ASEAN, cinta, keluarga, travel
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 3:13 PM
| |
<<< === === >>>

Request Your Blessing for Our Marriage
Posted on Friday, December 30, 2005



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dear Friends and Colleagues,
We wish to share our happiness with you by inviting you to witness us saying our vows of marriage in the holy matrimony which will be held in:"
Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Runggun KM.4, Padang Bulan, MEDAN, on 6 January 2006, starting at 15.00 PM "
The traditional ceremony (acara adat) and wedding reception will be convened in:"
Gedung Jambur Nameken 2nd Floor, Jl. Djamin Ginting, Padang Bulan, MEDAN, on 7 January 2006, starting at 11.00 AM "
We request the honor of your presence (if possible) and your loving prayer and blessing (for sure). We would highly appreciate it.Cordially yours,dwiAgus & clodi ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Chosen As Mine
Here I am so close to you
Know my voice, I'll never leave you
For I have loved you since before the sands of time were made
I love you still and always will.
You're chosen as Mine
My Father wants to bless you now,
Receive from Him all that you'll ever need.
Come spend eternity with Me. My heart's full of love for you.
I love you still and always will.
You're chosen as Mine.
Cries in the desert, My child, I hear them.
Tears in the valley, My lovely, I count them.
You're so precious; you were on My mind as I died.
I love you still, always will.
Chosen as Mine.
by Hillsong
(c)2002 Joanna Haverkam/Hillsong Publishing
taken from album FAITHFUL hillsong worship series
Labels: cinta, keluarga
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 8:40 AM
| |
<<< === === >>>

Bapakku
Posted on Sunday, June 12, 2005
Sejak SD (mungkin sejak kelas 3-4 SD barangkali yah, aku juga gak ingat) sampai SMA, aku gak pernah minta dijemput bapak atau mamak kalau pulang sekolah. Pulang sekolah yah pulang ajah, jalan kaki (waktu rumah masih di Gang Bungur, Kebayoran Lama) atau naek bus (setelah di Meruya), kecuali suatu kali saat SMA, sekali minta dijemput, karena waktu itu aku lagi sakit perut berat, tapi nekat ke sekolah. Alhasil, pulang sekolah, lemas tak bertenaga dan akhirnya minta dijemput. Bapakku sendiri yang njemput, pake mobil Datsun kotak yang butut. Dan aku langsung tidur di jok belakang, sekalian ngumpet, malu ... Entah malu takut kalaow ketauan udah gede kok masih dijemput, atau malu karena mobil butut yang dibawa bapakku gak semewah mobil teman2ku yang lainnya waktu itu.
Dari kecil memang aku suka seenaknya, dan selalu pengen mandiri,... Sampei sekarang pun begitu. Kadang suka-sukanya sendiri dan gak mau diikut-campuri oleh siapapun, tidak terkecuali mamak dan bapakku. Waktu kecil suka maen-maen sendiri, keluar rumah maen berbagai macam permainan di lapangan di rumah, berjam-jam tanpa peduli, mamak atau bapak mencari atau gak. Gak peduli...
Waktu SMP pun juga begitu, suka pulang malam, dan gak perduli. Pikirku selalu: “Ah gak dicariin ini”. Dan yang lebih menguntungkan lagi, di rumah belum pasang telpon kala itu. Bahkan sampai SMA pun rumah belum ada telp. Jadi gak pernah tuh bilang-bilang dulu kalau mau pulang malam. Yah, cuek ajah, .. kalow mau maen pulang sekolah, yah maen ajah. Kalow mau sampe malem, sampe jam 7 atau jam 9, yah ayuk ajah. Dan aku asik dengan duniaku sendiri.
Apa itu namanya membangun kemandirian? Gak terlihat yah. Kelihatannya malah aku, seorang anak badung yang egois, mau asik sendiri, gak perduli, bahkan ama keluarga sendiri. Mencoba asik dengan dunianya sendiri. Dan hanya di kala sedang butuh saja kembali keluarga jadi tempat meminta.
Jadinya gemanah? Suam-suam kuku.
Iyah, suam-suam kuku, hangat-hangat bubur ayam. Aku dengan adikku laki laki, sudah seperti dua sepupu jauh. Dengan kakakku perempuan, hangat sih hangat, tapi tak merekat. Kaku semuanya kaku, kadang tak terjadi aliran komunikasi perasaan antar kami. Iyah, kaku dan suam-suam kuku.
Kusadar, bahwa sesuatu yang berharga sebenarnya bisa aku bangun dari awal, aku bisa seperti mereka yang punya kedekatan yang erat dalam keluarga. Kadang kulihat beberapa temanku, punya sebuah kehangatan keluarga yang meresap.
Kadang ada sedikit kecewa, bercampur sesal dengan pertanyaan kenapa mesti begitu. Padahal jawabannya ku tahu: Aku yang tak pernah menghargai adanya mereka yang sebenarnya sesuatu yang berharga yang harus dipelihara dan dijaga.
Sesal dan kecewa tak ada guna, ku sadar suatu hari, waktu itu.
Dan selalu ada waktu buat semua orang untuk lebih baik dan lebih baik lagi. Dan tak ada kata terlambat untuk mulai menghargai apa yang telah kita miliki sejak awal.
Mungkin ada yang salah yang telah terjadi, tapi yang salah itu selalu dapat dimaafkan dan dibenarkan. Selalu. Dan cuman DIA yang bisa membuatku sekarang melihat adikku dengan penuh kasih, dan takut kehilangan. Cuman DIA lah yang membantu aku melihat kakak perempuanku dengan beda dan penuh cinta. Cuman DIA yang mengubah aku melihat mamakku seperti melihat permata tak ternilai harganya. Dan hanya DIA lah yang menjadikan aku melihat Bapakku, seperti seorang jagoan yang patut ku bangga. Hmmm... Bapakku seorang jagoan yang patut kubangga? Apa gak berlebihan?
Dulu yang kulihat dari bapakku cuman dua: ke-sok tau-annya, dan ke-keras kepala-annya. Ada juga yang lainnya: ke-sok lucuan-nya, ke-sok-baik-annya, ke-sok asik-annya, ke-sok-akrab-annnya ke orang lain, ke-sok populer-annya, dan lain-lain.
Betapa bapakku suka mencomot-comot info dari manapun itu dan membaginya ke orang lain dan dengan naïf dan polosnya bereaksi dan berkomentar yang mungkin kelihatan aneh dan sok tau. Betapa bapakku itu suka sekali berpendirian teguh, susah kali untuk dibawa ke sisi lain. Betapa bapakku itu suka sekali ngelucu-ngelucu di tempat banyak orang ngumpul. Betapa bapakku itu suka sekali berbaik-baik sama orang yang kadang membuat mamak sendiri jadi senewen. Betapa bapakku itu suka sok asik, suka ikut-ikutan macam-macam dan suka beda sendiri biar kesannya asik. Betapa bapakku itu suka sekali jadi pusat perhatian orang kalow di tempat di merasa nyaman.
Hmmm,... Kenapa aku dulu melihat semua tersebut di atas itu sebagai sesuatu yang jelek yah? Apalagi kalau bapakku itu ada ditempat orang dan suka bercerita apapun tentang aku dan membangga-banggakan aku, ini lah, itu lah, yang kadang membuatku risi, senewen dan kesal dan jadi malu sendiri.
Tapi bukankah itu normal? Lagian, lihat, semuanya itu juga ada dalam diriku. Ya, dan aku seharusnya bangga bisa mewarisi smuanya itu dari dia, karena dia jugalah yang membentuk aku seperti sekarang ini.
Lucu yah, padahal di luar sana, banyak orang yang gak seberuntung aku punya bapak seperti dia. Yang mau kerja keras, gak tau dapat duit dari mana bersama-sama dengan mamak, sebagai pegawai negeri golongan kecil dan bisa mbayarin aku sekolah di swasta dari SD, trus pas kuliah mbayarin kos dan bayarin uang semesteran sampai lulus kuliah (untung kuliah di Negeri, kalow gak, gak kebayang deh...) Yang mau ngerelain semuanya untuk anaknya, nabung, berhemat, mengencangkan ikat pinggang super ketat, gak pernah belanja macam-macam, bahkan jarang beli baju dan pakaian dalam buat dirinya sendiri atau buat mamak.
Yang dipikirinnya cuman orang lain, apalagi aku. Yang rela njemput sekolah kalow sakit waktu SMA. Yang rela ke Bandung waktu aku bandel dan nekat kuliah padahal masih belum sehat betul dari hepatitis, njenguk sebentar di tempat kos malam-malam dan langsung balik esok paginya. Yang mau ke bandung waktu wisudaan. Yang rela aku bawa nyasar ke cimahi waktu aku sok tau jalan pulang dari bandung ke Jakarta. Yang selalu sabar kalaow aku debat-debat dan sedikit omel-omelin.
Hmmm.. betapa beruntungnya ya?
Bapakku memang bukan bapak yang sempurna. Tapi dia telah menjadi alatNYA membentuk aku menjadi aku yang seprti sekarang ini. Bapakku telah ambil bagian dalam pekerjaanNYA sebgai tukang periuk yang membuat seonggok tanah liat jelek dan gak berguna jadi periuk yang indah dan semakin diperindah lagi olehNya…
Makasih, ya, Bapakku.
Maafkan agus belum sempat bilang terima kasih banyak. Tapi agus tau kalau bapak selalu sayang agus dan bapak pun sekarang tahu betapa beruntungnya agus, dan betapa sayangnya agus sama bapak.
Maafkan juga agus yang kebanyakan cengengas-cengenges. Maafkan juga karena belum sempat mengajak bapak dan mamak nonton Ketoprak Humor di GKJ.
Maafkan agus ya, bapakku.
12 June 2005, stuck in Bangkok,
waiting for the earliest flight in the next morning to Jakarta.
Labels: keluarga, personal
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 9:02 PM
| |
<<< === === >>>

Terima Kasih
Posted on Friday, May 27, 2005
Hari minggu kemaren tgl 22 May 2005, Bapakku dapat serangan jantung ringan.
Setelah lewat UGD dan masuk ICU, sekarang sudah ada di ruang perawatan intermediate. Nanti kalau sudah mendingan dan tidak terjadi apa-apa, baru bisa pindah ke ruang inap biasa.
Terima kasih doanya ya, semuanya,....
bless you all!!
Labels: keluarga, personal
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 2:16 PM
| |
<<< === === >>>

Being a Mother - a brave choice yet respectful one
Posted on Tuesday, July 20, 2004
----------find your strength from your best friends----------
Ada sebuah cerita kubaca dari sebuah posting email....
Cerita mengenai seorang ibu di rumah tangga di amerika yang pada suatu hari harus ke balaikota mengurus sesuatu dan berhadapan dengan masalah administratif di manah dia diberikan formulir standar yang harus dia isi, setelah dia isi dan dikembalikan, timbul deh percekcokan sedikit dikarenakan seorang ibu mengisi di baris OCCUPATION dengan "HOUSEWIFE". Dan petugas administratif di sanah dengan mengernyitkan dahinya (entah ituh bener2 bingung atau sinis menghina) mempertanyakan apakah memang housewife itu sebagai sebuah pekerjaan?.... bete juga ibu itu. Dan pada hari berikutnya berbekal pengalaman itu, ibu ituh menghadapinya dengan pede, dan mengisi formulir tersebut dengan santai dan pada bagian
occupation dia kali ini mengisi
"human development business" dan kali inih si petugasnya tertarik, padahal maksud si ibu sama ajah, karena pada dasarnya pekerjaan ibu rumah tangga yah ada unsur human development business-nya,.. ada unsur capacity buildingnya, dll.
Email itu berkaitan banget dengan email yang kuterima dari sahabatku Vera, yang pada suatu hari nyelinap di mailis Tjoerhad (yang anggotanya cuman: Aku, Vera, Lusi, Melly, Arie dan Ratna). Vera yang biasanya nyantai2 ajah dengan pandangan miring profesi Ibu RUmah Tangga, tiba tiba merasa terusik(atau tergelitik) ketika ada otang bilang: "masih betah ajah loe jadi ibu rumah tangga" ....
Dan Vera pun terusik, tapi untungnya tidak membuat dia mempertanyakan kembali profesi dia, yang bagi orang lain "hanya sekedar" Ibu RUmah tangga, tapi Vera malah bisa menumbuhkan kebanggaan dia dengan profesinya ituh,...
Dia sekedar menanyakan kenapa banyak orang yang masih memandang rendah profesi ibu rumah tangga dan memandangnya sebagai warga kelas dua after wanita karier. Keliatannya bagi banyak orang, kalow wanita gak kerja tuh gak keren.
Apa emang seperti ituh,.....
Lucu ajah yah, aku pikir gak ada hubungannya antara wanita gak kerja dan masalah keren gak keren. Kalow serang ibu emang keren, yah tetep ajah keren, entah dia kerja apa gak. Dan seperti yang Ratna bilang, gaul gak gaul, keren gak keren, ituh mah diliat dari wawasannya ajah. Dan menurut dia kerja mah seperti panggilan jiwa, .... dan kadang orang kerja ituh untuk memenuhi kebutuhan non-materi, tapi batin, semisal: ingin mengaktualisasikan diri di masyarakatnya,... ada juga yang ingin bekerja karena ingin berbuat sesuatu untuk orang lain, ingin bisa memberikan sesuatu dampak positip ke orang banyak. Ya gak ,Mell..? huehehe. Lain lagi dengan Arie, yang merasa bahwa kerja ituh menjadi salah satu ritual yang membawa sedikit kebahagian tersendiri (dalam arti dapat membawa dia ke dunia lain tempat melupakan keruwetan lainnya di luar sana).
Jadi, so what dengan being a mother (a full time mother - to be precise)? Gak masalah khan? Ngapain mikirin orang yang berpikiran cetek yang memandang rendah profesi ini. Inih khan cuman masalah pilihan ajah. Mengutip dari Melly, seorang wanita milih kerja atu gak, tetep ajah bakal ada yang ngomongin, pro dan kontra. So, why does it bother you?
Tapi jelas bahwa being a full mother adalah mulia, tapi kita juga gak bisa bilang seorang ibu yang bekerja ituh tidak mulia, atau menelantarkan amanah DIA yang di atas sana. Jadi, aku pikir, gak fair juga kalow Vera mengasosiasikan bahwa ibu yang bekerja ituh berarti mengenyampingkan amanah Tuhan itu dan silau dengan nikmat dunia. Gak bisa generalisir seperti inih kali yah. Sangat tergantung orang lah yah. Kalow memang iyah dia menelantarkan kepentingan anaknya, bisa kali yah kita sedikit menghakimi si Ibu yang bekerja inih , tapi ada juga kok Ibu yang bekerja gak perlu mngorbankan kepentingan anaknya. Lagian seperti kata Ratna, amanah inih gak terletak dipundak sang Ibu tapi juga si Bapak lah. Tergantung kreativitas dan imajinasi kita dalam memanage dan menyeimbangkan dua fungsi itu. Tul gak?
Akhirnya Lusi menyimpulkan dengan beberapa phrases yang padat, yang intinya:
1. jangan takut untuk mencoba sesuatu yang baru,.... we might learn something. Dalam konteks ini, mungkin maksud lusi yaitu jangan takut utk mencoba menjadi ibu yang bekerja (kalaow selama ini merasa terjebak terbiasa keadaan sekarang), dan mencoba menjadi full time mother bagi mereka yang belom menjadi ibu, huehehehehe.
2. jangan takut untuk meraih sesuatu (menjadi ultimate desire luh) ... God speed lah,...
3. Jangan keseringan dengerin orang lain,..... lebih pintar memilah-milah kali yah maksudnya.
4. Jangan pernah menyesali keputusan yang sudah diambil. ... betul. jangan terlalu asik. kalau salah keputusan, get up, move on, and learn from it,.. gituh yah lus?
Dan lusi menutupnya dengan manis dengan sebuah harapan bahwa kita semua akan selalu jadi lebih baik dengan apapun yang kita lakukan sekarang dan di masa-masa mendatang, dan bahwa semuanya itu bisa karena ditunjang dengan cara: always surround you with the right people/friends. Makasih lah lus,........ same here,.....
kapan ketemuan lagih kita?? huehehehehe
Labels: keluarga
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 10:45 AM
| |
<<< === === >>>

Father's Day
Posted on Wednesday, June 23, 2004

Kalian tahu nggak? Tanggal 20 Juni hari minggu kemaren adalah Hari Bapak (Father's Day).
Hari bapak ini dulu dicetuskan di Amerika Serikat oleh Mrs. John B. Dodd yang menginginkan sebuah hari peringatan bagi ayahnya.
Kemudian pada tahun 1924 lah Hari Bapak ini mulai dinyatakan resmi dengan penetapan harinya yaitu pada setiap Hari Minggu ke-3 di bulan Juni. Cerita lengkapnya di
sini.
Untuk yang belom jadi seorang Bapak, hayoooo.........
Udah merenungi belom kalow ayah kita itu adalah seorang yang harus kita hormati, lepas dari segala kekurangan yang dimilikinya, tapi dia paling gak udah ada di samping kita setia sampai kita besar sekarang. Emang sih ada yang mempunyai ayah-ayah yang jauh dari sempurna, tapi tetap ajah, mereka ayah-ayah kita. Paling gak kita menghargai fungsi dan peran seorang ayah yang sangat vital bagi keluarga. Dan someday kita menjadi seorang ayah pula. huehehehehhehe.
Untuk yang udah jadi seorang Bapak, hayoooo.....
Blessed to be a father yah,...... atau kalow mau bikin sebuah resolusi, silakan.... salah satu resolusi seorang bapak: "
be a hero"
So,.. happy father's day ya, Bapak-ku... happy father's day juga buat kamu yang udah jadi seorang Bapak ya....
Labels: keluarga
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 8:47 AM
| |
<<< === === >>>