
Simbol Perlawanan?
Posted on Friday, April 25, 2008
Suatu hari saya iseng ambil majalah the Economist (saya lupa edisi kapan ya), yang ditaruh di rak baca kantor. Sepertinya ditinggal oleh salah satu bos di kantor saya. Waktu itu, saya pikir lumayan buat bahan bacaan menemani perjalanan dalam kereta Sudirman Ekspress jurusan Sudirman-Serpong (ya, saya beberapa bulan ini mulai jadi penglaju menggunakan kereta antar kota).
Ada satu artikel di dalamnya yang menarik sekali buat saya. Cerita tentang pembangunan di China yang benar-benar bergairah. Terutama pembangunan di bidang properti di berbagai pelosok kota-kota di China. Saking bergairahnya, kadang sampai lupa menyadari bahwa pembangunan tidak berlangsung dalam ruang vakum. Di dalam ruang pembangunan kota ada ada makhluk bernama penduduk. Dan mereka kadang tidak seperti binatang di hutan perawan yang bisa diusir keluar hutan dengan cara membunyikan klakson dari sebuah mesin eskavator.
Liat gambar ini dalam artikel tersebut .
Source: www.asiasentinel.com
Sebuah rumah milik sepasang suami istri, Yang Wu dan Wu Ping, di sebuah area komersial di Chongqing, Jiulngpo District, China. Rumah yang menyembul tepat di tengah-tengah lubang besar galian konstruksi yang akan dibangun sebuah pusat perbelanjaan. Menakjubkan ya. Orang-orang menyebutnya "nail house", mungkin karena seperti paku yang sudah tertancap dan tidak mudah di cabut. Jadi , developer ini sedang menghadapi sebuah paku yang sangat mengganggu.
Source: www.somewhere-in-the-internet-i-forgot.com
Suami-istri tersebut bertahan dengan rumah mereka tersebut selama dua tahun terisolasi, tanpa akses jalan, listrik, dan air, untuk melawan sebuah ketidakadilan, ketika mereka merasa berhak untuk mendapatkan kompensasi yang layak: Lahan pengganti dengan luas yang sama dan di area yang sama (tidak jauh dari situ).
Namun, pada akhirnya pada bulan april 2007, bangunan tersebut pun berhasil dirubuhkan juga, setelah ada kesepakatan. Tapi gambar tesebut di atas akan tetap dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap perlakuan semena-mena dan tidak adil menangkut hak memiliki properti seorang warga negara.
Source: www.chinadaily.com.cnGambar yang hampir sama dengan cerita yang berbeda ternyata juga ada di Indonesia, tepatnya di pinggiran timur kota Jakarta, yang sedang digasruk-gasruk oleh proyek Banjir Kanal Timur (BKT). Sebuah rumah yang dimiliki oleh keluarga Ibu Ernawati terperangkap di tengah-tengah galian proyek BKT, seperti sebuah pulau terisolasi. Mereka harus melewati tanah-tanah galian, yang tentunya becek (karena
hutchan, gak ada
otchek...
betchek... begitu analisa dari Cinta Laura Kiehl, hehehe) untuk keluar rumah.
Kompas/M Clara Wresti / Kompas Images
(Kompas,Rabu, 23 April 2008) Gambar di atas hampir sama dengan "Nail House" di China. Tapi cerita yang ada, berbeda. Rumah yang menyembul menunggu roboh karena tanahnya bisa longsor terkikis hujan tersebut dilatar belakangi adanya masalah pergantian ganti rugi karena tanah tersebut masih dalam sengketa, karena ada pihak ketiga yang mengakui tanah tersebut milik mereka, sehingga panita pembayar ganti rugi dari pemerintah masih menunggu verifikasi keputusan kepada siapa mereka harus membayar ganti rugi. Jadi gantung, deh.
Beberapa waktu lampau majalah TEMPO memuat "cerita-cerita seru" permasalahan proyek BKT seputar pembebasan tanah, dan pembayaran ganti rugi tanah yang amburadul karena ulah spekulan yang mempermainkan harga, oknum yang gemar
mark-up harga tanah, oknum pemerintah yang mengutak-atik sertifikasi/pencatatan dan pengukuran tanah, dan lain-lain sehingga menyebabkan membengkaknya anggaran proyek ini sehingga masih jauh dari separuh jalan.
Jadi, kalau menurut saya, gambar tersebut yang muncul di koran Kompas kemarin tersebut, mungkin bukan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan perlakuan semena-mena pemerintah daerah terhadap pengakuan hak milik properti masyarakat, tapi rupanya merupakan simbol ketidak berdayaan pemerintah daerah melawan pasar yang terdistorsi oleh oknum yang korup (spekulan dan aparat) serta ketidak berdayaan pemerintah daerah membangun daerahnya karena perilaku korupsi, mismanajemen dan perencanaan yang lemah.
Kalau cerita "nail house" di China sudah berakhir bersamaan dengan robohnya bangunan tersebut. Cerita rumah Ibu Ernawati mungkin akan berakhir berbeda, namun dengan
slow-ending yang kurang dramatis, karena bisa saja sengketa berlanjut ke pengadilan dan ditentukan di sana. Dan lantas pemda tinggal bayar ganti rugi saja. Beres.
Justru akhir cerita soal proyek BKT inilah yang ditunggu-tunggu orang banyak, sambil mulut menguap karena jemu menunggu akhirnya, namun saya yakin endingnya akan sangat-sangat dramatis. Entah akan menjadi sebuah monumen kegagalan proyek pemda (seperti tiang pancang monorel yang melapuk dan karatan) dengan lubang-lubang galian menganga yang akan suatu hari jadi rawa,..... atau akan menjadi sebuah proyek gemilang dan patut di kenang dalam mengatasi banjir tahunan yang rajin menerjang di kawasan timur Jakarta.
Kita liat saja akhirnya bersama-sama ya.
Labels: china, kota, land development
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 10:42 AM
| |
<<< === === >>>

pemda, pasar dan masyarakat
Posted on Tuesday, February 20, 2007

Dari sebuah hotel sederhana di ujung kawasan Bukit Bintang, Kuala Lumpur, menuju bandara KLIA, berdesak-desakkanlah saya bersama bos saya, beserta seorang pejabat dari Singapore, dan seorang pejabat lagi dari Viet Nam, di dalam sebuah mobil agak mewah yang mentransfer kami dari hotel ke bandara. Percakapan pun kesana kemari sampai tiba pada topik banjir besar di Jakarta yang sebenarnya agak memalukan buat saya, karena dulu kota Jakarta yang sangat dibangga-banggakan oleh para negara tetangga di asia karena kemegahannya setara dengan kota-kota di seberang samudera pasifik sana, tapi sekarang seolah tak berdaya seperti seroang lansia yang bahkan tak mampu mandi dan sikat gigi. Yah, Jakarta seolah seperti lorong kumuh di asia tenggara yang tersembunyi diapit kawasan mewah bernama australia dan malaysia serta singapura. Sang sopir dengan lancar membanggakan hebatnya malaysia dan singapura dengan segala sistem transportasinya dan infrastrukturnya yang menjamin kenyamanan para warganya. Tak seperti di Jakarta yang begitu sibuk memikirkan bangunan, bangunan, bangunan, yang mencakar-cakar langit dan pada akhirnya lupa, mereka butuh sistem transportasi yang handal dan sistem drainase yang mantap.
Itu semua karena banjir. Fenomena alam katanya, yang terulang skenarionya setiap enam atau lima tahun (atau empat tahun pada pengulangan berikutnya, jadi waspadalah).
Ada benarnya kata sang sopir. Ibaratnya ketika kita ingin membentuk patung manusia, kita lupa bikin kerangkanya. Bisakah kita membayangkan seorang manusia tanpa kerangka. Dan ketika baru keinget untuk bikin tulang kerangka, maka dibikinlah kerangka ulang itu, dan dimasukkan secara paksa ke dalam tumpukan daging-daging yang sudah terbentuk. Tapi ya begitulah, Jakarta begitu sibuk membentuk dan membiarkan daging-daging terus bertumbuh sehingga lupa membangun dan membentuk tulang kerangka yang sehat. Jadinya Jakarta seperti ABG yang obesitasnya tinggi, tak mampu bergerak dan menjadi sarang penyakit.
Infrastruktur kota adalah tulang kerangka bagi kota, yang sangat menentukan bentuk dan wajah kota. Tapi kadang kita menyempitkan arti infrastruktur kota sebatas: jalan-jalan dan gedung gedung saja. Pada akhirnya infrastruktur yang terlalu berorientasi pada jalan mendorong kita pada sistem transportasi yang tidak efisien, dengan jalan-jalan yang penuh kendaraan karena kemudahan pembelian kendaraan dan subsidi bahan bakar. Akhirnya tak pernah terlintas pikiran untuk membuat sistem transportasi yang handal, apalagi sistem drainase yang mantap.
Dulu sering ada proyek-proyek urban infrastructure development, tapi sifatnya yang tidak menyeluruh dan tidak sistematik, jadinya cuma sekedar kosmetika perkotaan yang begitu mudah larut ketika tercuci air banjir. Yang diutak-atik hanya jalan dan jalan, dan juga bangunan-bangunan perumahan. Lupa ada komponen lain yang namanya drainase, jaringan transportasi rel atau subway, jalur hijau dll.
Mungkin memang harus ada banjir-banjir dahsyat yang harus membangunkan mereka yang punya kuasa bahwa sudah sepatutnya segera memulai perencanaan perkotaan yang peka terhadap daerah aliran sungai, daerah terbuka hijau, dan siklus aliran air. Istilahnya
water sensitive urban design, seperti yang dilakukan di Australia, begitu kata salah satu
pengajar UGM, pemerhati urban design.
Sama seperti Belanda, yang harus mengalami
banjir besar di daerah selatan (Zuid-Holland) di tahun 1953 yang memakan banyak korban dan kerugian, sehingga keluarlah
Delta Project. Mungkin Jakarta memang harus tenggelam dulu untuk berakrab-ria dengan air.
"Negara hilang. Banjir terbilang". Begitu kata Goenawan Muhammad (GM) di catatan pinggirnya di majalah Tempo minggu lalu. Kegemasan yang dirasakan semua ketika sebuah insitusi bernama Negara, dalam hal ini Pemda, seperti hilang lenyap, seperti makhluk halus atau makhluk takhyul, dalam situasi-situasi seperti ini. Kemana saja memang pemda bertahun-tahun ini.
Bahkan di komplek perumahan tempat tinggalku, ketika mengetahui kejadian banjir diakibatkan karena tak ada pengendalian dan pemeliharaan jalur selokan aliran air akibat bangunan liar di perkampungan sebelah, pemda tak bisa apa-apa sehingga memang harus masyarakat sendiri yang lebih proaktif.
Tapi tunggu dulu, pemda tak selamanya takhyul. Dia akan muncul ketika membereskan kaki lima, mengusir anak jalanan di perempatan jalan, menggusur permukiman liar di tanah negara dan tanah milik konglomerat celaka, mengatur perijinan mendirikan bangunan dan sertifikat tanah, serta pajak-pajaknya.
Tapi memang terlihat pemda sudah lumpuh, kalah oleh sebuah tangan tak kelihatan bernama
pasar. Tak mampu membebaskan tanah untuk banjir kanal timur, tak mampu membereskan jalur hijau, tak mampu mengembalikan situ dan empang yang teruruk dan digusur pusat perbelanjaan dan apartemen, tak mampu memperbaiki aliran sungai utama dan gorong-gorong dan selokan-selokan yang melintas tengah kota.
Entah mengapa pemda jadi begitu mudah untuk disalahkan, walaupun sebenarnya tanpa pemda justru tambah lebih buruk. Toh, mungkin benar kata teman, Pemda itu cerminan masyarakatnya. Jadi bukan salah pemda seluruhnya. Dan mungkin memang harus tangan-tangan tak kelihatan bernama pasar dan tangan-tangan tak kelihatan bernama pemda, harus berhadapan dengan tangan-tangan terkepal mereka yang gemas, marah, dan tak sabar (meminjam istilah GM).
Labels: banjir, kota, land development, transportasi
===>>> Digores oleh: dwiAgus di
| @ 11:59 AM
| |
<<< === === >>>