:::::: Ujung Jariku ::::::


HOME

UjungJariku

PROFIL PENGGORES

B. Dwiagus S.
Peziarah penasaran.
Pengembara di jalan kehidupan.
Plegmatis bermimpi jadi pemimpin.
Pragmatis pengejar solusi dingin.
Perenung aneh yang pendiam dan sederhana.
Pengumbar cinta untuk: Klaudia dan Lentera.

Mama Lentera Lentera

TEMA & TOPIK


TULISAN TERBARU

Tilik Tetangga



jejaring

KomunitasReferensi BloggerFamily
IKANED IAP
ASEAN Secretariat GTZ
MediaCare
Bike-to-Work Indo-MONEV

ARSIP AKBAR
KOLOM KAMPANYE

Ultah-Bike-to-Work



FEED FOR FUN

UjungJariKu

↑ Grab this Headline Animator



TUMPANG TENAR

Profil Facebook de Benedictus Dwiagus Stepantoro



ATRIBUT APRESIASI

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Blogger

Get Firefox!

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 2.5 License.
Desain dasar dari: Blogskins
Image: PGP!
Brushes: Rebel-heart
Designer: Ebullient*




PSSI

Posted on Friday, November 02, 2007

Dari dulu saya tidak begitu berminat mengikuti berita soal PSSI. Begitu-begitu saja beritanya. Seperti gambar skets Benny & Mice di buku kumpulan kartunnya: dua orang itu semangat ketika mengikuti berita olahraga tentang Liga Champion, Liga Inggris, dan liga-liga lainnya. Tapi ketika sampai ke berita tentang PSSI, "Paling berita soal rapat bla bla bla,..." komentar Benny, dan TV langsung dimatikan.

Dan pagi ini saya tergoda sekali untuk baca tuntas tulisan di Kompas soal PSSI di bagian olahraganya. Paling tidak ada 4 tulisan di situ, yang rasanya sangat mewakili perasaan semua orang pencinta sepakbola Indonesia.

PSSI yang tidak punya rasa malu.
PSSI yang malas berkaca.
PSSI yang bagai Mafia.
PSSI yang masih suka menebar mimpi.

Membacanya puas sekali, sampai setuntas-tuntasnya, kata demi kata mewakili gejolak gemas saya, membuat saya tersenyum, lucu tapi getir.

Semoga dibaca semua orang. Terutama para pengurus PSSI yang tak tau malu dan masih suka bermimpi itu.

Labels: ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 10:31 AM | |

<<< === === >>>


gemas dan pening yang terobati

Posted on Thursday, May 03, 2007


Gemas bercampur pening rasanya ketika menjelang perayaan hari pendidikan nasional, saya membaca hingar bingar berita kecurangan yang dilakukan beberapa sekolah di Medan ketika Ujian Nasional, karena ingin sekedar mengejar target kelulusan anak didiknya, tapi mengabaikan etika sama sekali. Kelompok Air Mata Guru yang melaporkan keurangan itu juga mengalami teror dan tekanan setelah mengadu ke Depdiknas. Perih ya, melihat mereka yang sekedar mencoba menjadi guru yang jujur dan berbakti dengan masih punya nurani, tapi mereka diteror dan diancam oleh pihak sekolah yang hanya memikirkan kepentingan sesaat saja.

Tapi gemas dan pening itu sedikit terobati ketika kemaren malam, melihat sebuah acara talkshow yang mengusung tema pendidikan. Obrolan ringan soal pentingnya pendidikan dan masalah-masalah yang masih dihadapi masyarakat dalam mendapatkan pendidika, mengalir dengan lancar. Sampai ketika salah satu bintang tamu acara itu, Rieke Dyah Pitaloka, mengajak seorang guru yang katanya tetangga dia yang berminat datang ke acara talkshow itu. Ternyata guru itu adalah bekas guru sang pembawa acara. Sang guru ini, Pak Riyanto, namanya, ternyata telah diam-diam membiayai sekolah sang pembawa acara ketika sang pembawa acara ini tidak mampu meneruskan lagi sekolahnya karena masalah biaya. Tapi Pak Riyanto tetap memaksa dia untuk tetap sekolah dan ikut ujian sampai akhirnya dia lulus. Mengharukan ya, ada guru yang begitu peduli pada anak didiknya yang tidak mampu dan tetap membantu dia tetap sekolah, sampai lulus. Dan ternyata anak yang diasuhnya itu sudah menjadi besar dan menjadi orang sukes yang fenomenal.

Anak asuh itu yang dulu sangat miskin, sampai harus menunggak uang sekolah 8 bulan, pernah bolos 3 bulan, dan kadang mencuri makan siang teman-temannya karena kelaparan, dan kadang harus bantu orang tua berjualan, akhirnya bertemu lagi sambil berbagi nostalgia dan tawa dengan sang guru yang berjasa ini di acara talkshow yang bernama empat mata yang diasuh oleh si anak asuh itu. Yap, anak itu adalah Tukul Reynaldi Arwana , sang fenomenon (huehehehehhe...). Siapa bilang acara empat mata gak bisa elegan, mendidik, dan bermutu? Makanya don't judge the book from its cover. huehehehhe.

Beruntunglah mereka yang bisa dengan mudah mendapatkan pendidikan. Tapi juga jangan berputus asa bagi mereka yang harus bersusah payah mendapatkan pendidikan di negeri ini. Sementara kita menunggu mereka di atas sana memperbaiki sistem pendidikan kita, menambah anggaran pendidikan, memperbaiki kesejahteraan para guru dan membebaskan biaya sekolah bagi anak-anak negeri ini.

Saya sendiri ada beberapa guru yang saya ingat membantu saya dan keluarga saya dalam proses mendapatkan keringanan biaya sekolah waktu SD, SMP, dan SMA.

Diberkatilah mereka, guru-guru yang masih peduli dan berani membela nurani mereka.

Amin.

Labels: , , ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 5:33 PM | |

<<< === === >>>


merdeka atau mati: kalau gak merasa merdeka, mati aja??

Posted on Tuesday, August 22, 2006

Kadang heran, melihat banyak orang yang merasa kita ini belum merdeka,.... atau mereka bilang: "kita belum merdeka sepenuhnya". Bahkan di infotainment pun beberapa artis dengan semangatnya bilang: "ah, kita ini masih belum merdeka kok,.. jadi biasa ajah lah" ...

Saya jadi bingung, kita ini memangnya belum merdeka ya? Trus memangnya kurang merdeka apanya nih? Merdeka sepenuhnya itu seperti apa?

Padahal menurut saya sih, kita ini udah jauh lebih merdeka daripada beberapa negara lainnya. Kita bisa punya pers yang merdeka, dan kita bisa merdeka untuk cela-cela pemerintah dan kepala negara. Kita sekarang bisa lebih merdeka untuk teriak2 utuk menuntut keinginan kita. lebih merdeka untuk teriak2 tentang ketidak adilan dan kesewenang-wenangan. Lebih merdeka untuk mencari kebahagiaan dan kesejahteraan. Dan banyak kemerdekaan lain yang kita punya. Terima kasih pada para pahlawan kita.

Kalau membandingkan beberapa negara lain, kita jauh lebih merdeka. Coba liat Irak sana. Coba liat Kuba. Coba liat beberapa negara afrika sana. Kalau mau lebih dekat lagi coba liat Myanmar sana. Beberapa waktu lalu, berkunjung ke Myanmar. Gak bisa bayangin, mereka bisa menjalani semuanya dengan masih bisa tersenyum, dimana hampir sgala-alanya dibatasi oleh pemerintah. Bayangkan akses email yang sangat2 terbatas. Bayangkan Yahoo dan Hotmail yang tak bisa diakses sama sekali. Email harus diregister ke pemerintah, dan discreening. Bayangkan untuk memiliki mobile, yang low-end technology sekalipun, harus mengeluarkan harga yang tertinggi di dunia. Bayangkan pmerintahan yang harus manut-manut ajah dengan rezim militernya, ketika ibukotanya harus pindah ke tengah hutan sana. Bayangkan kita gak bisa mencela-cela bahkan mencandai presidennya, kalau tak mau berakhir di penjara. Tak terbayangkan.

Dan mereka bilang kita belum merdeka sepenuhnya, karena kita belum merdeka dari kemiskinan, pengangguran, kriminalitas. Katanya lagi, kita belum merdeka dari segala bencana. Saya malah tak mengerti. Kenapa jadi begini. Memangnya salah siapa kalau banyak kemiskinan, pengangguran atau kriminalitas. Salah presiden semata? Salah DPR semata? Salah para menteri semata? Padahal saya setuju seperti kata adhitya, kalau itu semua warga negara mengambil bagian dari kesalahan itu lah, termasuk kita, karena negara khan terbentuk oleh para warga negaranya.

Padahal dulu semangatnya katanya walaupun hujan batu di negeri sendiri, Indonesia tetap negaraku . Susah atau senang mau gak yah kita mengakui bahwa negeri kita ini auh lebih baik adanya. Jauh lebih merdeka.
Dan segala kekurangan yang ada di negara kita ini bukan berarti membuat kita berkurang kemerdekaan kita (less-freedom),... Bukan berarti kita berkurang kemerdekaan kita cuman karena ada beberapa orang yang menyalahgunakan kemerdekaan itu. Justru mestinya menyegarkan kembali semangat kmerdekaan kita untuk membangun bersama, berkontribusi bersama. Daripada mengintrospeksi diri dengan bertanya-tanya terus dan menyesali betapa "kurang merdeka"nya kita, mendingan bertanya-tanya apa yan gsudah kita berikan dan berbagi komitmen untuk memberikan sumbangan dan kontribusi ke negara kita sebagai penghargaan atas kemerdekaan yang sudah diberikan pahlawan kta. Toh kemerdekaan bukan sebagai sesuatu yang taken for granted khan?

Ingat khan teriakan merdeka atau mati yang sering diteriakin oleh para pejuang kita, dan ditulis di tembok2 ketika jaman perjuangan dulu? Apa artinya itu?
Apa lantas kalau kita gak merasa merdeka, apa kita lantas mati ajah? Bukan itu khan? Dan bukan berarti kalau merasa kurang merdeka, lantas mengeluh dan do nothing?
Justru slogan itu bilang ke kita untuk selalu berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan kita karena memang sudah diberikan ke kita.

Jadi, bersyukurlah, dan ucapkan syukurmu dengan dirimu sendiri menghargainya, karena tak ada yang berkurang sedikitpun dari kemerdekaanmu itu.

Salam merdeka!

Labels: ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 10:27 AM | |

<<< === === >>>


Lomba Foto Blogfam - Perayaan Kemerdekaan RI -

Posted on Friday, August 18, 2006

Pertama,

Judul: Mewarnai Kemerdekaan
Keterangan:
Seorang anak remaja, mewarnai kemerdekaannya dengan caranya sendiri yang penuh warna-warni.
Lokasi: Sebuah lomba menggambar, di Pameran Flora dan Fauna, di Lapangan Banteng, Jakarta, 17 Agusus 2006.

----------------------------------------------------

Kedua,

Judul: Aku cinta Bapak Kemerdekaanku
Keterangan: Seorang anak mengekspresikan kebanggaanya pada Bapak Kemerdekaan bangsa kita. Mungkin ingin menjadi presiden seperti idolanya tersebut kalau sudah cukup besar nanti.
Lokasi: Sebuah pawai, daerah Manggarai, Jakarta, 17 Agusus 2006.

Labels: ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 10:40 AM | |

<<< === === >>>


Guru dan hardiknas

Posted on Tuesday, May 02, 2006

Tanggal 1 Mei kemaren, Republik BBM - Indosiar mengambil tema spesial, tentang Pendidikan Nasional, menyambut hardiknas yang jatuh pada hari ini.

Biasanya, setiap saya menonton Republik BBM, yang ada hanya senyum gelak dan diam menggelitik otak. Tapi kemarin serasa lengkap, ada senyum, ada gelak, ada diam, ada yang menggelitik otak, dan ada provokasi. Ada kegemasan, ada kemarahan, ada kesedihan, ada keharuan, ada semangat, ada kebanggaan, ada ketidak percayaan.

Serasa lengkap ketika canda dan tawa, guyonan dan kritikan, diselingi lagu Oemar Bakri dan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Tak hanya para mahasiswa-mahasiswi yang tersentuh ketika bernyanyi, bahkan seorang Taufik Savalas pun bernanyi dengan tatapan nyalang terharu, sepintas terlihat seperti ada basahan airmata di pipinya.

Banyak termasuk saya mengamini bahwa negara ini masih jauh perjalanan. Kalau di ASEAN ini, mungkin negara-negara ASEAN lainnya masih enteng berkata: "Ah, Indonesia masih jauh....(di belakang kita)". Kata seorang pengamat, kualitas pendidikan kita yang menyamai hanya Kamboja. Indonesia lebih sedikit dari kamboja, sedangkan negara-negara ASEAN lainnya masih diatas kita.

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu, membaca sebuah buku terbitan Penerbit Kompas (yang judulnya kalau tak salah: "Guru dalam Tinta Emas"), sebuah kompilasi cerita-cerita beberapa pendidik yang istimewa,yang benar-benar menunjukkan totalitasnya dalam dunia pendidikan nasional. Membaca buku itu, seperti menemukan teh botol dingin di puncak merapi. Menyegarkan.

Tapi mungkin memang tak cukup hanya segelintir orang di buku itu saja yang berani dan bisa berbuat sesuatu. Harus lebih banyak lagi. Berlipat-lipat ganda, mestinya. Sebuah tantangan yang harus dijawab dengan cepat, kalau tak ingin negara kita mandek.

Sebuah tantangan dalam kondisi yang sulit. Kondisi sulit dimana, menurut Imam B.Prasodjo, di acara Republik BBM itu, masyarakat lebih menghargai kecantikan dan kesensualan,... kosmetik dan pinggul. Sedangkan sebuah nilai kecerdasan masih dinomorkan ke sekian. (Ke sekian itu, ke berapa?)

Dan pikiran saya melayang ketika smu, mengenang beberapa guruku yang layak dsebut guru yang menoreh tinta emas di hidup saya. Yang sayangnya, mereka sudah dipanggil olehNya. Ada beberapa hal yang saya ingat.

Pak Darno, guru biologiku yang bermental baja. Disaat murid2nya cuek2 ajah (smu saya, isinya cowok semua, -red.), bercanda, ada yang bermain jalangkung dengan jangka, ada yang bermain catur jawa, ada yang ngelawak, ada yang celoteh dan celutuk, bahkan ada yang tidur di lantai, dia tetap terus semangat mengajar. Tidak pernah marah. Sering jalan2 di sela2 meja sambil terus mengajar, berusaha berinteraksi, menjawab semua pertanyaan. Bahkan ketika menemukan saya sedang tidur di lantai beralaskan ubin dan tas sekolah, dia hanya menegur beberpa detik, lantas melanjutkan pengajarannya. Soal bakteri, kuman, anatomi binatang, sampai reproduksi, semuanya lengkap diajarkannya. Pak Darno membuat saya nyaman dengan ilmu dan sekitar saya. Beliau meninggal karena sakit keras beberapa tahun yang lalu, dengan kesederhanannya yang melimpah.

Pak Bobby,guru olahragaku yang keras berwibawa. Tak ada satupun dari kami yang tak segan kepadanya. Dan setiap jadwal olahraga di pagi hari, pasti dengan semangat aku sudah bersiap2 berganti pakaian olahraga dan selalu menikmati satu setengah jam berolah raga dengan dia. Lari keliling sekolah, roll di atas rumput dan diatas lapangan tanah, sit-up dan push-up, senam gymnastik di atas rumput. Kebanyakan olahraga kami itu seperti itu. Kalau permainan basket,volley ball, dan rugby, dia pasti hanya mengawasinya saja. Buat aku, dia lah yang membuat olah raga itu benar-benar harus dijadikan bagian dari gaya hidup kita. Bahkan ketika kelas tiga, walaupun sebenarnya dalam kurikulum nasional, tidak ada olahraga untuk kelas tiga, tapi di smu kami dinuat ada, dengan sks 0. Yang penting olahraganya. Ya, Pak Bobby ini yang membuat aku suka dengan olahraga apa saja. Beliau juga sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit.

Bruder Honoratus, guru fisikaku. Guru fisika kami ada beberpa orang. Ada yang spesialis mekanika, ada yang spesialis fisika murni, ada fisika modern. Bruder ini mengajar fisika modern. Beliau ini lah yang benar-benar membuat fisika itu menyenangkan. Saya selalu terpaku ke wajahnya ketika dia menerangkan segala hal tentang fisik yang banyak bersentuhan dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari spektrum warna, elektromagnetik, elektron, nuklir, laser, dll. Semuanya dijelaskan dengan sejelas-jelasnya dan fascinating dibuatnya. Beliau meninggal beberapa bulan yang lalu di kampung halamannya di Belanda sana, meninggalkan berjuta kenangan buat ribuan siswanya yang sudah diajarnya bertahun-tahun di smuku.


Seperti kata Prof. Yohannes Surya, kalau fisika, matematika dll itu bisa dirasa menyenangkan, cool, dan mudah, maka untuk belajar pun rasanya exciting sekali.
Bersyukurlah aku karena punya beberapa guru yang sudah menorehkan tinta emas yang mengandung opium yang menyenangkan yan gmembuatku senang untuk menuntut ilmu terus.

selamat hari pendidikan nasional!!!

Labels: , ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 1:55 PM | |

<<< === === >>>