:::::: Ujung Jariku ::::::


HOME

UjungJariku

PROFIL PENGGORES

B. Dwiagus S.
Peziarah penasaran.
Pengembara di jalan kehidupan.
Plegmatis bermimpi jadi pemimpin.
Pragmatis pengejar solusi dingin.
Perenung aneh yang pendiam dan sederhana.
Pengumbar cinta untuk: Klaudia dan Lentera.

Mama Lentera Lentera

TEMA & TOPIK


TULISAN TERBARU

Tilik Tetangga



jejaring

KomunitasReferensi BloggerFamily
IKANED IAP
ASEAN Secretariat GTZ
MediaCare
Bike-to-Work Indo-MONEV

ARSIP AKBAR
KOLOM KAMPANYE

Ultah-Bike-to-Work



FEED FOR FUN

UjungJariKu

↑ Grab this Headline Animator



TUMPANG TENAR

Profil Facebook de Benedictus Dwiagus Stepantoro



ATRIBUT APRESIASI

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Blogger

Get Firefox!

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 2.5 License.
Desain dasar dari: Blogskins
Image: PGP!
Brushes: Rebel-heart
Designer: Ebullient*




School Bullying dan SMU P.L.

Posted on Wednesday, May 23, 2007

Siapa sih yang tak pernah mengalami 'dikerjain' (being bullied) ketika SD, SMP dan SMA? Saya rasa banyak orang pasti akan mengangguk dan mengakui pernah mengalaminya. Apalagi kalau melihat definisi school bullying seperti berikut ini, wah pasti semua orang pernah mengalaminya:


"Perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut." (menurut Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005), dikutip dari Blog POPsy yang dikelola oleh Andreas P. Prima dalam artikelnya di sini ) "Bullying involves a desire to hurt, hurtful action, a power imbalance, (typically) repetition, an unjust use of power, evident enjoyment by the aggressor and a sense of being oppressed on the part of the victim." (Dr. Ken Rigby, http://www.education.unisa.edu.au/bullying/define.html)

Dan semua definisi itu berbicara soal kekerasan yang bersifat fisik maupun psikis. Seperti yang dikutip dalam artikel di Blog POPsy itu, Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005) yang mengelompokkan jenis-jenis kekerasan itu mulai dari kekerasan fisik langsung, kekerasan verbal, kekerasan non-verbal, dan kekerasan non-verbal yang tidak langsung, sampai pelecehan seksual. Kalau begitu, mau tidak mau saya sendiri selain mengaku mengalami school bullying, tapi juga ternyata pernah melakukan school bullying sadar maupun tidak sadar. Kadang kita tidak bermaksud untuk melukai orang secara fisik ataupun psikis, tapi itu bukan alasan bagi kita untuk mengakui bahwa kita dulu pernah melakukan school bullying.

Membaca sebuah artikel berita koran tadi pagi setelah mengikuti berita sebelumnya soal kekerasan di SMU Pangudi Luhur, membuat saya serba salah. Karena saya sendiri bekas murid di situ. Terkejut juga ketika ada siswa SMA PL yang ternyata mendapat kekerasan sampai digebukin sampai babak belur macam niru-niru IPDN. Perasaan dulu saya memang di-'keme' (istilahnya kami untuk 'ngerjain dan dikerjain') tapi gak pernah sampai mengalami digebukin atau nggebukin anak orang seperti itu. Saya tak tahan untuk senyum meringis, ketika Kompas, mengutip idiom: "anak kelas satu adalah binatang, anak kelas dua adalah manusia, anak kelas dua adalah raja, dan alumni adalah dewa".

Kebudayaan 'keme-mengeme' ini sebenarnya memang sudah tradisi di SMU saya ini, tapi setahu saya sama sekali tidak ada unsur "keinginan untuk melukai", "perilaku yang menyakiti", "repetisi kekerasan", dan "kesewenang-wenangan". Itu feeling saya waktu itu sih. Tapi memang saya gak akan merasa apa-apa bahkan tak akan pernah ada empati, karena saya sendiri bukan korban bullying yang digebukin seperti itu.
Saya ingat sekali masa-masa melewati 1 minggu pertama orientasi, dan 6 bulan masa inisiasi yang lumayan menyiksa di SMU PL, tapi semua itu kok jadi seperti masa yang berkesan. Ya, berkesan, karena tidak berlanjut menjadi korban.

Kalau bicara 1 minggu masa orientasi sekolah yang sebenarnya merupakan bagian pelengkap dari acara penataran P4 warisan orba itu, mungkin bukan sebuah waktu yang cukup untuk menyebut itu school bullying. Waktu itu seperti biasa banyak session-session 'keme' yang memang tidak jelas tujuannya, walaupun maksud dan idenya adalah meningkatkan pengenalan dubia SMA dan membangun kesiapan mental mereka yang akan masuk SMA, tapi memang jadi riskan untuk berkembang, melenceng, dan disalahgunakan, menjadi upaya peningkatan senioritas yang semu berbalut penyalahgunaan kekuasaan yang tidak seimbang. Tapi satu minggu orientasi ini akan berlalu tanpa ada apa-apa kalau anda beruntung, karena akan bisa berlanjut sepulang sekolah.

Yang membuat menarik dalam satu minggu orientasi itu, adalah 'culik-menculik' siswa yang dilakukan oleh alumni untuk dibawa ke sebuah lapangan di daerah Pondok Indah untuk diperkenalkan lebih lanjut tentang apa itu senioritas yang berlanjut sampai alumni. Ketika itu, ketika pulang sekolah, sehabis penataran itu, hati selalu dag dig dug, karena tidak boleh ada jemputan sekolah yang terlalu menyolok di sekitar sekolah. Bagi yang dijemput, memang harus sembunyi-sembunyi dan parkir agak jauh dari sekolah, tapi kalau kurang beruntung ketika sedang berjalan menuju mobil jemputan itu, sudah lebih dulu ada "jemputan dari alumni" yang menghadang, dan perjalanan berlanjut ke daerah di Pondok Indah . Yang naik kendaraan umum, jelas lebih beresiko lagi. Saya sendiri mengalami dag dig dug itu karena harus naik angkutan umum, walaupun pernah juga nebeng teman yang dijemput. Tapi entah kenapa saya beruntung tidak diculik, dan hanya mendengar cerita-cerita dari teman yang dengan hebohnya dan bangganya menceritakan pengalaman diculiknya. Tapi tak pernah ada cerita gebuk-menggebuki. Makanya kadang saya iri dengan mereka. Pengen juga tau rasanya diculik alumni. Ah, mungkin tampang dan penampilan saya terlalu cemen dan tidak menarik untuk dikerjain. Huehehehe.

Masa satu minggu orientasi yang menegangkan itu tak berhenti di akhir minggu. Itu akan berlanjut ke masa enam bulan penuh tekanan yang untuk beberapa orang di kelas 1 bisa menjadi tekanan, tapi juga bisa jadi bukan suatu tekanan, tapi pengalaman berkesan. Bayangkan, selama enam bulan anak kelas 1 tidak boleh ke WC, tidak boleh ke kantin, tidak boleh macam-macam (merokok misalnya), dan harus pake badge OSIS (yang sewaktu-waktu dirazia, siapa yang tidak pake badge OSIS, didenda). Bagaimana kalau lapar? Ya bawa bekal lah. Bagaimana kalau kebelet pipis? Ya tampung di plastik,botol aqua,atau apa kek. Bagaimana kalau kebelet buang air besar? Tahan lah, atau kalau gak tahan, ya.... figure the way out lah, just be creative,..huehehehhee.

Masa enam tahun itu juga diwarnai potensi-potensi mendapat tekanan yang lucu-lucuan tapi juga ada potensi mendapat tekanan yang sama sekali tidak lucu, yang mungkin bisa berakhir di akhir kenaikan ke kelas 2atau sampai kelulusan tanpa kejadian apa-apa, atau bahkan berhenti di tengah jalan karena keburu gak tahan dan keluar dari sekolah.

Tekanan-tekanan yang lucu-lucuan bisa berupa korban permainan yang memang untuk lucu-lucuan ataupun fun, seperti 'membugili' (melucuti pakaian sang korban, bisa jadi karena dia sedang ulang tahun, atau karena korban keisengan ajah), 'dituang' (diangkat badannya untuk digantung terbalik di balkon dengan kaki masih kepegang dan ditahan di pagar balkon oleh anak-anak lain beramai-ramai, tapi badan dan kepala sang korban melambai-lambai menjuntai terbalik), 'spiderman' (badan korban diangkat beramai-ramai dan dirapatkan badannya menghadap ke langit-langit koridor yang kebetulan pendek, sehingga sang korban terpaksa menahannya dengan tangan, dan kemudian diarak keliling koridoor, dan jadilah dia seperti laba-laba yang merayapi langit-langit), dan lain-lain.

Tekanan yang lucu-lucuan ini kadang jadi gak lucu kalau korbannya orangnya itu-itu ajah, dan inisiatornya orangnya itu-itu juga. Dan buat sang korban, mungkin lucu juga kalau cuman sekali kena dikerjain. Tapi, bagaimana tidak stress buat korban kalau tiap hari dia harus cemas karena hampir tiap minggu dia jadi korban dibugilin, atau di kerjain lainnya.

Tekanan lucu-lucuan akan menjadi tidak lucu kalau sudah berulang-ulang untuk korban yang sama, dan korban yang lemah dan tidak melawan, dan dengan pelaku/inisiator itu menikmati sekali ketidak berdayaan sang korban dan bahkan sampai membuat sang korban depresi, apalagi tersakiti secara fisik dan psikis.

Ketika saya di SMU PL, saya tidak melihat ada orang yang menjadi korban tekanan yang tidak lucu seperti di atas. Karena saya dan teman-teman di sekitar saya tidak mengalaminya sendiri, dan juga karena saya memang sepertinya tidak peduli mengamati teman-teman lainnya yang mungkin lemah dan tidak berdaya. Mata saya baru terbuka sedikit ketika mendapat cerita dari teman dekat yang tidak satu kelas, bahwa sebenarnya ada anak-anak yang sebenarnya sudah jadi korban bullying. Salah satunya si N, teman saya, yang sebenarnya saya juga lumayan kenal. Ternyata dia gak tahan mendapat bullying oleh veteran (istilah temen satu kelas dari angkatan berbeda karena tinggal kelas). Tiap hari disuruh ngerjain PR, dibugilin, disambitin pengapus, dll. Pada akhirnya, ia keluar pindah sekolah. Ada lagi teman saya, sebut saja namanya D, yang ternyata tiap hari sudah menjadi korban tetap seorang veteran juga, yang harus sabar dan bertahan dengan rasa cemas, karena sering dibugilin, sering disambit pake jangka, sering disuruh ngerjain tugas, sering diklepto barang-barangnya dengan terang-terangan. Tapi teman saya ini diam saja, dan bertahan sampai dia lulus.

Mereka yang tak berdaya ini, tak bisa melawan dan hanya diam. Ada yang kemudian pindah sekolah, ada juga yang survive bertahan. Entah apa yang terjadi kalau salah satu dari mereka yang tertekan ini kemudian 'meledak' dan membeli senjata api untuk mengamuk membabi buta, seperti mahasiswa asal Korea di Virgina Tech University di USA sana.

Sekarang, saya bukan anak SMA lagi. Sudah sepatutnya saya harus menentang segala bentuk school bullying yang kelewatan, yang tidak lucu-lucuan lagi, apalagi sudah pakai kekerasan.

Kalaupun SMU PL sebenarnya lumayan saya banggakan, tapi kalau sudah kelewatan ya,memang kita harus mengakui kesalahan kita yang membiarkan sebuah bibit potensi kekerasan dalam bentuk school bullying bertumbuh dalam sebuah tradisi yang sebenarnya bisa ditinjau lagi dan diperbaiki.

Saya ingat dulu tahun 1994 (kalau gak salah), ketika SMU PL Masuk RCTI karena ada siswanya yang mengadu polisi karena dikerjain keterlaluan. Dan sekarang, sudah masuk koran KOMPAS. Mau nunggu apa lagi? Harus ada pihak yang berbuat sesuatu. Jangan sampai seperti IPDN lah, walaupun belum ada korban meninggal. Tapi apa harus menunggu ada yang meninggal? IPDN sudah diberi kesempatan, tapi buat banyak orang kesempatannya sudah lewat, maka banyak menuntut IPDN untuk dibubarkan. Sekarang SMU PL, kesempatannya masih ada. Jangan biarkan kesempatan yang masih dimiliki SMU PL untuk memperbaiki diri lenyap.

Dan ini berlaku buat sekolah-sekolah lain, karena school bullying seperti gulma yang kalau dibiarkan, bisa berkembang biak mematikan sistem kehidupan yang dihisapnya.

All I want to say is:
Say no to school bullying, not only for yourself, but for your children in the present and future!
***
Sumber ilustrasi:
1.
http://www.gloucestershire.police.uk/kids_aware/5.html
2.
http://www.foolquest.com/cliquebusters.htm
3. http://www.stopdeafbullying.com/services.html
4. Photo gallery, Friendster SMU PL: http://www.friendster.com/6551495

Labels: ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 3:45 PM | |

<<< === === >>>


gemas dan pening yang terobati

Posted on Thursday, May 03, 2007


Gemas bercampur pening rasanya ketika menjelang perayaan hari pendidikan nasional, saya membaca hingar bingar berita kecurangan yang dilakukan beberapa sekolah di Medan ketika Ujian Nasional, karena ingin sekedar mengejar target kelulusan anak didiknya, tapi mengabaikan etika sama sekali. Kelompok Air Mata Guru yang melaporkan keurangan itu juga mengalami teror dan tekanan setelah mengadu ke Depdiknas. Perih ya, melihat mereka yang sekedar mencoba menjadi guru yang jujur dan berbakti dengan masih punya nurani, tapi mereka diteror dan diancam oleh pihak sekolah yang hanya memikirkan kepentingan sesaat saja.

Tapi gemas dan pening itu sedikit terobati ketika kemaren malam, melihat sebuah acara talkshow yang mengusung tema pendidikan. Obrolan ringan soal pentingnya pendidikan dan masalah-masalah yang masih dihadapi masyarakat dalam mendapatkan pendidika, mengalir dengan lancar. Sampai ketika salah satu bintang tamu acara itu, Rieke Dyah Pitaloka, mengajak seorang guru yang katanya tetangga dia yang berminat datang ke acara talkshow itu. Ternyata guru itu adalah bekas guru sang pembawa acara. Sang guru ini, Pak Riyanto, namanya, ternyata telah diam-diam membiayai sekolah sang pembawa acara ketika sang pembawa acara ini tidak mampu meneruskan lagi sekolahnya karena masalah biaya. Tapi Pak Riyanto tetap memaksa dia untuk tetap sekolah dan ikut ujian sampai akhirnya dia lulus. Mengharukan ya, ada guru yang begitu peduli pada anak didiknya yang tidak mampu dan tetap membantu dia tetap sekolah, sampai lulus. Dan ternyata anak yang diasuhnya itu sudah menjadi besar dan menjadi orang sukes yang fenomenal.

Anak asuh itu yang dulu sangat miskin, sampai harus menunggak uang sekolah 8 bulan, pernah bolos 3 bulan, dan kadang mencuri makan siang teman-temannya karena kelaparan, dan kadang harus bantu orang tua berjualan, akhirnya bertemu lagi sambil berbagi nostalgia dan tawa dengan sang guru yang berjasa ini di acara talkshow yang bernama empat mata yang diasuh oleh si anak asuh itu. Yap, anak itu adalah Tukul Reynaldi Arwana , sang fenomenon (huehehehehhe...). Siapa bilang acara empat mata gak bisa elegan, mendidik, dan bermutu? Makanya don't judge the book from its cover. huehehehhe.

Beruntunglah mereka yang bisa dengan mudah mendapatkan pendidikan. Tapi juga jangan berputus asa bagi mereka yang harus bersusah payah mendapatkan pendidikan di negeri ini. Sementara kita menunggu mereka di atas sana memperbaiki sistem pendidikan kita, menambah anggaran pendidikan, memperbaiki kesejahteraan para guru dan membebaskan biaya sekolah bagi anak-anak negeri ini.

Saya sendiri ada beberapa guru yang saya ingat membantu saya dan keluarga saya dalam proses mendapatkan keringanan biaya sekolah waktu SD, SMP, dan SMA.

Diberkatilah mereka, guru-guru yang masih peduli dan berani membela nurani mereka.

Amin.

Labels: , , ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 5:33 PM | |

<<< === === >>>


hai, bung

Posted on Thursday, April 12, 2007

hai, bung
yang berseragam berdiri angkuh di sana
yang kelak jadi abdi negara dan pengemong warga

kau butuh jiwa kepimpinan,
bukan jiwa otoriter yang mabuk hirarki bawahan atasan

kau butuh jiwa manajerial
bukan jiwa konspirasial yang membawa sial

kau butuh jiwa pelayanan
bukan jiwa penaklukan apalagi dengan kekerasan

itu kalau kau mau, bung!

*turut berduka cita untuk Cliff Muntu*

Labels: ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 12:36 PM | |

<<< === === >>>


Guru dan hardiknas

Posted on Tuesday, May 02, 2006

Tanggal 1 Mei kemaren, Republik BBM - Indosiar mengambil tema spesial, tentang Pendidikan Nasional, menyambut hardiknas yang jatuh pada hari ini.

Biasanya, setiap saya menonton Republik BBM, yang ada hanya senyum gelak dan diam menggelitik otak. Tapi kemarin serasa lengkap, ada senyum, ada gelak, ada diam, ada yang menggelitik otak, dan ada provokasi. Ada kegemasan, ada kemarahan, ada kesedihan, ada keharuan, ada semangat, ada kebanggaan, ada ketidak percayaan.

Serasa lengkap ketika canda dan tawa, guyonan dan kritikan, diselingi lagu Oemar Bakri dan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Tak hanya para mahasiswa-mahasiswi yang tersentuh ketika bernyanyi, bahkan seorang Taufik Savalas pun bernanyi dengan tatapan nyalang terharu, sepintas terlihat seperti ada basahan airmata di pipinya.

Banyak termasuk saya mengamini bahwa negara ini masih jauh perjalanan. Kalau di ASEAN ini, mungkin negara-negara ASEAN lainnya masih enteng berkata: "Ah, Indonesia masih jauh....(di belakang kita)". Kata seorang pengamat, kualitas pendidikan kita yang menyamai hanya Kamboja. Indonesia lebih sedikit dari kamboja, sedangkan negara-negara ASEAN lainnya masih diatas kita.

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu, membaca sebuah buku terbitan Penerbit Kompas (yang judulnya kalau tak salah: "Guru dalam Tinta Emas"), sebuah kompilasi cerita-cerita beberapa pendidik yang istimewa,yang benar-benar menunjukkan totalitasnya dalam dunia pendidikan nasional. Membaca buku itu, seperti menemukan teh botol dingin di puncak merapi. Menyegarkan.

Tapi mungkin memang tak cukup hanya segelintir orang di buku itu saja yang berani dan bisa berbuat sesuatu. Harus lebih banyak lagi. Berlipat-lipat ganda, mestinya. Sebuah tantangan yang harus dijawab dengan cepat, kalau tak ingin negara kita mandek.

Sebuah tantangan dalam kondisi yang sulit. Kondisi sulit dimana, menurut Imam B.Prasodjo, di acara Republik BBM itu, masyarakat lebih menghargai kecantikan dan kesensualan,... kosmetik dan pinggul. Sedangkan sebuah nilai kecerdasan masih dinomorkan ke sekian. (Ke sekian itu, ke berapa?)

Dan pikiran saya melayang ketika smu, mengenang beberapa guruku yang layak dsebut guru yang menoreh tinta emas di hidup saya. Yang sayangnya, mereka sudah dipanggil olehNya. Ada beberapa hal yang saya ingat.

Pak Darno, guru biologiku yang bermental baja. Disaat murid2nya cuek2 ajah (smu saya, isinya cowok semua, -red.), bercanda, ada yang bermain jalangkung dengan jangka, ada yang bermain catur jawa, ada yang ngelawak, ada yang celoteh dan celutuk, bahkan ada yang tidur di lantai, dia tetap terus semangat mengajar. Tidak pernah marah. Sering jalan2 di sela2 meja sambil terus mengajar, berusaha berinteraksi, menjawab semua pertanyaan. Bahkan ketika menemukan saya sedang tidur di lantai beralaskan ubin dan tas sekolah, dia hanya menegur beberpa detik, lantas melanjutkan pengajarannya. Soal bakteri, kuman, anatomi binatang, sampai reproduksi, semuanya lengkap diajarkannya. Pak Darno membuat saya nyaman dengan ilmu dan sekitar saya. Beliau meninggal karena sakit keras beberapa tahun yang lalu, dengan kesederhanannya yang melimpah.

Pak Bobby,guru olahragaku yang keras berwibawa. Tak ada satupun dari kami yang tak segan kepadanya. Dan setiap jadwal olahraga di pagi hari, pasti dengan semangat aku sudah bersiap2 berganti pakaian olahraga dan selalu menikmati satu setengah jam berolah raga dengan dia. Lari keliling sekolah, roll di atas rumput dan diatas lapangan tanah, sit-up dan push-up, senam gymnastik di atas rumput. Kebanyakan olahraga kami itu seperti itu. Kalau permainan basket,volley ball, dan rugby, dia pasti hanya mengawasinya saja. Buat aku, dia lah yang membuat olah raga itu benar-benar harus dijadikan bagian dari gaya hidup kita. Bahkan ketika kelas tiga, walaupun sebenarnya dalam kurikulum nasional, tidak ada olahraga untuk kelas tiga, tapi di smu kami dinuat ada, dengan sks 0. Yang penting olahraganya. Ya, Pak Bobby ini yang membuat aku suka dengan olahraga apa saja. Beliau juga sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit.

Bruder Honoratus, guru fisikaku. Guru fisika kami ada beberpa orang. Ada yang spesialis mekanika, ada yang spesialis fisika murni, ada fisika modern. Bruder ini mengajar fisika modern. Beliau ini lah yang benar-benar membuat fisika itu menyenangkan. Saya selalu terpaku ke wajahnya ketika dia menerangkan segala hal tentang fisik yang banyak bersentuhan dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari spektrum warna, elektromagnetik, elektron, nuklir, laser, dll. Semuanya dijelaskan dengan sejelas-jelasnya dan fascinating dibuatnya. Beliau meninggal beberapa bulan yang lalu di kampung halamannya di Belanda sana, meninggalkan berjuta kenangan buat ribuan siswanya yang sudah diajarnya bertahun-tahun di smuku.


Seperti kata Prof. Yohannes Surya, kalau fisika, matematika dll itu bisa dirasa menyenangkan, cool, dan mudah, maka untuk belajar pun rasanya exciting sekali.
Bersyukurlah aku karena punya beberapa guru yang sudah menorehkan tinta emas yang mengandung opium yang menyenangkan yan gmembuatku senang untuk menuntut ilmu terus.

selamat hari pendidikan nasional!!!

Labels: , ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 1:55 PM | |

<<< === === >>>


janji pemerintah dan kesadaran sang "penadah"

Posted on Friday, May 06, 2005

Di suatu pagi aku membaca artikel Romo B. Herry-Priyono, seorang romo yang seiring perjalanan telah menjadi filsuf-ekonom yang aku suka artikel-artikelnya. Kali ini, arikelnya tentang sedikit dari semesta permasalahan pendidikan yang rumit di Indonesia. Sedikit tapi buatku penting sekali.

Sering aku melihat berita dan gambar tentang kondisi beberapa sekolah-sekolah di Indonesia yang rusak, hampir roboh, mengenaskan situasi belajarnya. Mulai dari yang ada di pelosok pedalaman kalimantan, dan sumatera, sampai yang ada di tengah ibukota, karena siap digusur, dan yang di pinggiran kota. Dan statistik pun sudah bicara, untuk SD dan SMP lebih dari setengah jumlah kelas di negara kita ini, keadaanya RUSAK.

Berita dan gambar-gambar itu pun akan diselingi dengan ungkapan prihatin beberapa pejabat, mulai dari para pengamat pendidikan, simpatisan politik, dirjen di depdiknas, sampai SBY sendiri yang bilang, menyedihkan krn menyadari negara ini masih tidak bisa menjalankan amanat konstitusinya di bidang pendidikan. Dan simpati-simpati juga disertai janji-janji yang untuk selanjutnya menjadi mentah dan roboh. Janji-janji yang tak berjalan karena berujung pada pengingkaran. Pengingkaran yang disebabkan sebuah pengandaian bahwa pemerintah punya duit segudang untuk mewujudkan janjinya itu.

Janganlah kita terlalu berharap menunggu alokasi dana pendidikan menjadi 20% dari APBN sesuai dengan amanat konstitusi. Karena pendidikan sudah jadi prioritas sekian setelah anggaran untuk perbaikan ekonomi di sektor riil, ekonomi dan bisnis. Dan jangan terlalu berharap dengan upaya pemberantasan korupsi yang menghambat pemanfaatan optimal dana pendidikan yang ada. Dan jangan terlalu berharap dengan perbaikan kurikulum, dan masalah kualitas pendidikan lainnya. Tapi memang harus dimulai dengan sebuah entri. Bangun sekolah yang layak.

Ketika anggaran negara terlalu kering untuk bangun sekolah yang layak, mungkin memang skarang saatnya untuk tak tergantung dengan APBN dan cari alternatip sumber lain.
Bagaimana dengan sumberdaya alam kita? Industri sumber-sumber daya alam itu mungkin bisa dicari kemungkinan kontribusinya dari prosentasi hasil bagi ataupun hasil olahannya.
Tapi yang menarik adalah, kalau kita simak lagi, siapa sih sebenarnya yang menampung produk pendidikan ini? Kita akhirnya harus mengakui bahwa sektor swasta lah yang menikmatinya, dalam bentuk buruhnya, teknisi, dan kaum berdasi dan berhak tinggi-nya. Dan memang sungguh aneh, apabila mereka seperti lepas tangan dalam hal masalah pembangunan pendidikan di negara ini. Bisakah mereka-mereka, perusahaan-perusahaan besar yang hidup di negara ini, yang telah menyedot sebagian besar produk pendidikan negara ini, menyisihkan sekian prosentasi nett profitnya untuk ditaruh dalam pool bersama untuk biaya reparasi pendidikan nasional. Bukan seperti skema beasiswa karena itu sebuah skema manis yang belum "nendang". Tapi kontribusi yang masuk dalam sistemnya itu sendiri.

Bagaimana?
Terlihat seperti disinsentif. Seperti anti-free-trade dan globalisasi. Seperti tambahan beban kepada pajak yang telah dibayar. Tapi bukan itu masalahnya. Ini masalah kewajiban moral, rasa tanggung jawab dan terimakasih. Rasa kepemilikan bersama dan timbal balik. Bukan tambahan beban kepada pajak yang telah dibayar. Bukan beban kalau mau negosiasi. Lantas kita bisa bicara tax amnesti dan deregulasi. Toh selama ini swasta telah menikmati. Sektor bisnis swasta jangan jadi free-riders yang menggemukkan diri. Tapi biaralah anak-anak yang butuh sekolah lah yang jadi free-riders di negara ini.



Reference: "Robohnya Sekolah Kami", Kompas, 7 Mei 2005.

Labels:

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 11:05 AM | |

<<< === === >>>


back to sunday school

Posted on Monday, February 07, 2005

Beberapa waktu belakangan ini setiap rabu aku ikut katekisasi di GKI Panglima Polim. Belajar alkitab lagi. Bersama dengan beberapa abg mahasiswa dan sma yang entah punya berbagai motivasi yang beragam.
Kebetulan pendeta yang mengajar itu cukup galak. Ibu Pendeta Lily. Dan entah, aku lama-lama merasa gak sreg dengan beliau, karena pasti pada setiap pertemuan beliau akan menghabiskan hampir setengah jam mengingatkan kembali ke anak-anak katekisasi betapa pentingnya katekisasi ini, betapa pentingnya membuka alkitab, dan bahwa ini semua untuk kami semua. Tentunya dengan sedikit penekanan, karena beliau kelihatan kecewa, gemes, atau marah, melihat kami yang kelihatannya masih mentah, gak tau apa-apa, memalukan karena jarang buka alkitab, tidak antusias, males2an, gak serius dan lain-lain lah.

Pada suatu kesempatan, beliau menanyakan pertanyaan "siapa aja hakim-hakim dan raja-raja untuk bangsa Israel dalam perjanjian lama?". Semua diam. Pertanyaan kedua, "siapa hakim perempuan pertama waktu itu?". Kasak kusuk sebentar tapi tak ada jawaban. Beliau menjadi gemas dan kesal. Setelah bilang kalau kami semua ini memalukan, dan kalah dengan anak-anak kecil peserta sekolah minggu, akhirnya jadi PR, di tambah dengan kewajiban untuk jadi peserta sekolah minggu untuk minggu itu. Kebayang, kita yang sudah berkumis dan berjakun (untuk yang pria), yang sudah berlipstik dan berpupur bedak wangi (untuk yang wanita), harus bergabung duduk manis bersama anak-anak kelas SD itu.

Rasa gengsi merasuk hati kala itu. Saya nggak ngerti. Maksudnya apa. Gak ada hubungannnya antara ketidaktahuan kita akan hakim-hakim dan raja-raja dengan kebutuhan kita untuk belajar bersama anak-anak SD ituh. Cuma bikin malu kita. Jadinya aku cuman bilang ke ke klaudia, "gak mau ah. ngapain pula ke sekolah minggu". Dan akhirnya aku gak datang lah ke sekolah minggu.

Rabu berikutnya, pengecekan oleh Ibu Pendeta Lily. Dan ditemukan beberapa orang tidak mengerjakan PR tentang raja-raja dan hakim-hakim itu. Termasuk aku. Dan juga beberapa orang tidak dateng ke sekolah minggu. Kesal, marah, dan gemas, Ibu Pendeta akhirnya menghabiskan waktu sekitar setengah jam lebih untuk memarahi kami, dan akhirnya bilang kalau beliau akan menerapkan hukuman progresif bertumpuk2 untuk yang tidak melakukan perintahnya. Dia menyuruh kami ikut PA Pemuda pada hari kamis sebagai tugas pertama dan tugas keduanya, tetap menyuruh kami, yang belom ke sekolah minggu waktu itu, untuk hadir ke sekolah minggu, di minggu berikutnya.

Akhirnya aku dengan sedikit bengong, dan gondok, sedikit memikirkan, mungkin beliau punya alasan tertentu kenapa harus marah, dan ngotot untuk menyuruh kami ke sekolah minggu. Okeh. AKu jabanin deh.

Tugas pertama, datang ke PA Pemuda hari kamis, itu gampang, dan lumayan menyenangkan.

Tugas ke dua, hari minggu kemarin, akhrnya kupaksakan kakiku melangkah ke sekolah minggu dan bergabung ke kelas anak SD kelas 5. Melihat mereka ribut ketika gurunya menerangkan sesuatu, melihat mereka malu-malu ketika disuruh memimpin doa, melihat mereka sibuk bernyanyi walaupun banyak yang gak serius nyanyinya, dan yang bandel-bandel mencoba cari perhatian. Akhirnya aku juga diperkenalkan ke mereka dan dinyanyikan lagu selamat datang ke sekolah minggu. Ngawasin mereka juga ketika mereka disuruh buat surat masing-masing ke anak-anak di Aceh yang sekarang selalu menjadi teman mereka.

Ternyata menyenangkan juga. Kedongkolan hati karena gengsi mendadak hilang ketika duduk di antara mereka. Rasa enggan dan malu tak terasa setelah merasakan sukacita mereka. Akhirnya, aku cuman berpikir, kalau aku memang harus belajar rendah hati dari mereka. Tak ada yang perlu ditakuti, kalau kita punya hati seperti mereka.

Labels: ,

===>>> Digores oleh: dwiAgus di UjungJariku | @ 6:06 PM | |

<<< === === >>>